ISLAM & IPTEK

Baku Beking Pande Dalam Kajian Islam & Iptek
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Forum JatonForum Jaton  Dunia Mualaf VidioDunia Mualaf Vidio  KristologiKristologi  Mesjid KitaMesjid Kita  Sain & Qur'anSain & Qur'an  Alam SemestaAlam Semesta  Jalan LurusJalan Lurus  Belajar Qur'anBelajar Qur'an  Mengaji ( Iqra' )Mengaji ( Iqra' )  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 Orientalisme dan Al-Quran, Kritik Wacana Keislaman Mutakhir

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
rosian
Admin
avatar

Jumlah posting : 76
Join date : 31.01.08
Lokasi : Jakarta

PostSubyek: Orientalisme dan Al-Quran, Kritik Wacana Keislaman Mutakhir   Mon Feb 18, 2008 5:30 pm

Orientalisme dan Al-Quran, Kritik Wacana Keislaman Mutakhir ....Bgn II


Proses transmisi semacam ini, dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Quran sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat Jibrial a.s kepada Nabi sallallaahu 'alaihi wa-sallam dan diteruskan kepada para Sahabat, demikian hingga hari ini.

Ini berbeda dengan kasus Bibel, di mana tulisan—manuscript evidence dalam bentuk papyrus, scroll, dan sebagainya—memegang peran utama dan berfungsi sebagai acuan dan landasan bagi Testamentum alias Gospel.

Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini. Orientalis seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin, misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Quran sebagai ‘dokumen tertulis’ atau teks, bukan sebagai ‘hafalan yang dibaca’ atau recitatio. Dengan asumsi keliru ini (taking “the Qur’an as Text”) mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism.

Akibatnya, mereka menganggap Al-Quran sebagai karya sejarah (historical product), sekedar rekaman situasi dan refleksi budaya Arab abad ke-7 dan 8 Masehi. Mereka juga mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang ini tidak lengkap dan berbeda dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti!), dan karenanya perlu membuat edisi kritis (critical edition), merestorasi teks Al-Quran dan menerbitkan naskah baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada

Kedua, meskipun pada prinsipnya diterima dan diajarkan melalui hafalan, Al-Quran juga dicatat dengan menggunakan berbagai medium tulisan. Sampai wafatnya Rasulullah saw., hampir seluruh catatan-catatan awal tersebut milik pribadi para Sahabat Nabi dan karena itu berbeda kualitas dan kuantitasnya satu sama lain. Karena untuk keperluan masing-masing (for personal purposes only), banyak yang menuliskan catatan tambahan sebagai keterangan atau komentar (tafsir/glosses) di pinggir ataupun di sela ayat-ayat yang mereka tulis. Baru di kemudian hari, ketika jumlah penghafal Al-Quran menyusut karena banyak yang gugur di medan perang, usaha kodifikasi (jam') Al-Quran mulai dilakukan oleh sebuah tim yang dibentuk atas inisiatif Khalifah Abu Bakar as-Siddiq sehingga Al-Quran dikumpulkan menjadi sebuah mushaf, berdasarkan periwayatan langsung (first-hand) dan mutawattir dari Nabi saw. Setelah wafatnya Abu Bakar as-Siddiq r.a. (13 H/ 634 M), mushaf tersebut disimpan oleh Khalifah Umar r.a. sampai beliau wafat (23 H/ 644 M), lalu disimpan oleh Hafsah, sebelum kemudian diserahkan kepada Khalifah Utsman r.a. Pada masa beliaulah, atas desakan permintaan sejumlah Sahabat, sebuah komisi ahli sekali lagi dibentuk dan diminta mendata ulang semua qira’at yang ada, serta memeriksa dan menentukan nilai kesahihan periwayatannya untuk kemudian melakukan standarisasi bacaan demi mencegah kekeliruan dan mencegah perselisihan. Hasilnya dibukukan dalam beberapa mushaf standar yang masing-masing mengandung qira’at-qira’at mutawattir yang disepakati kesahihan periwayatannya dari Nabi saw. Jadi, sangat jelas fakta sejarah dan proses kodifikasinya.

Para orientalis yang ingin mengubah-ubah Al-Quran biasanya akan memulai dengan mempertanyakan fakta sejarah ini seraya menolak hasilnya, menganggap bahwa sejarah kodifikasi tersebut hanyalah kisah fiktif, dan mengatakan bahwa proses kodifikasi baru dilakukan pada abad ke-9 Masehi. Jeffery, misalnya, seenaknya mengatakan, "That he [i.e. Abu Bakr ra.] ever made an official recension as the orthodox theory demands is exceedingly doubtful." Ia juga mengklaim bahwa "…the text which Uthman canonized was only one out of many rival texts, and we need to investigate what went before the canonical text."

Ketiga, salah-faham tentang rasm dan qira'at. Sebagaimana diketahui, tulisan Arab atau khat mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Pada kurun awal Islam, Al-Quran ditulis 'gundul', tanpa tanda-baca sedikitpun.

Sistem vokalisasi baru diperkenalkan kemudian. Meskipun demikian, rasm Utsmani sama sekali tidak menimbulkan masalah, mengingat kaum Muslimin saat itu belajar Al-Quran langsung dari para Sahabat, dengan cara menghafal, dan bukan dari tulisan. Mereka tidak bergantung pada manuskrip atau tulisan.

Orientalis seperti Jeffery dan Puin telah salah-faham dan keliru, lalu menyimpulkan sendiri bahwa teks gundul inilah sumber variant readings --sebagaimana terjadi dalam kasus Bibel-- serta keliru menyamakan qira'aat dengan 'readings', padahal qira'aat adalah 'recitation from memory' dan bukan 'reading the text'.

Mereka tidak tahu bahwa dalam hal ini kaedahnya adalah: tulisan harus mengacu pada bacaan yang diriwayatkan dari Nabi sallallaahu 'alaihi wa-sallam ("ar-rasmu taab'iun li ar riwaayah") dan bukan sebaliknya.

Orientalis seperti Jeffery dan kawan-kawan yang bersemangat ingin “mengkorupsi” keotentikan Al-Quran tidak mengerti atau sengaja tidak peduli bahwa Al-Quran tidak sama dengan Bibel; Al-Quran bukan lahir dari manuskrip, tapi sebaliknya; manuskrip lahir dari Al-Quran.

Buku berjudul asli “Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran”, ini merupakan kumpulan berbagai artikel Dr. Syamsuddin Arief dari berbagai media massa. Meliputi; jurnal, harian, majalah, seminar dan colloquia. Meski demikian, isinya tidak mengurangi ketajaman dan keutuhan isi kandungannya, yang secara keseluruhan merefleksikan worldview Islam dengan jelas dan gamblang. Tulisan-tulisan ini ditulis disela-sela kesibukannya semasa menjadi mahasiswa S3 di ISTAC Malaysia dan juga ketika menempuh program doktoralnya yang keduanya di “sarang” orientalis di Frankfrut Jerman. Buku ini merupakan monograf perdananya yang kebetulan diterbitkan bertepatan dengan ulang-tahun INSISTS yang kelima pada 9 Februari lalu, momentum yang menandai pertautan antara penulis buku ini dan INSISTS sendiri. [syam/cha.hidayatullah.]

Judul Buku : Orientalis & Diabolisme Pemikiran
Penulis : Dr. Syamsuddin Arif
Tebal : 342 hal.
Harga : Rp. 65.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Pemesanan : Hub. 021 7940381 SMS 08111102549
--------------------------------------------------------------------------------
Dengan bahasa yang lugas, jelas, dan tegas, serta didukung dengan data-data yang keilmiahannya tak diragukan lagi, buku ini berhasil membongkar berbagai tipe ‘akrobat inetelektual yang selama ini berkedok akademik dan malanmg melintang dalam wacana keislaman. Setiaknya buku ini sangat bermanfaat bagi siapa saja yang peduli dengan kesantunan berwacana dan bukan kekenesan.
Dr. Anis Malik Thoha – Head of Department Ushuluddin & comparative religions, IIUM Malaysia.
--------------------------------------------------------------------------------
Tulisan-tulisan Dr. Syamsuddin Arif tentang pemikiran Islam dan pemikiran Barat telah membuka cakrawala baru dalam pemikiran Islam di Indonesia. Melalui berbagai tulisannya, ia telah membuktikan sebagai sosok intelektual yang memegang teguh nilai-nilai akademis ilmiah yang tinggi dan sekaligus memegang teguh posisinya sebagai seorang Muslim. Kemunculan Dr. Syamsuddin Arif dalam blantika pemikiran Islam di Indonesia telah mematahkan mitos kaum orientalis dan murid-muridnya di Indonesia, bahwa menjadi sarjana Muslim yang baik tidak harus disertai dengan melepaskan sikapnya sebagai Muslim. Bagi cendikiawan Betawi ini, seorang Muslim bisa menjadi good scholar dan good Muslim pada waktu yang sama. Karena itulah, buku Dr. Syamsuddin Arif ini sangat penting untuk dibaca oleh kaum Muslim di Indonesia.
Adian Husaini MA, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
--------------------------------------------------------------------------------
Tentang penulis:

iSYAMSUDDIN ARIF. Lahir 19 Agustus 1971 di Jakarta, tamat dari KMI Gontor 1989. Setelah dua tahun mengaji dan mengabdi di Majlis qura wa-l Huffazh, Tuju-tuju Kajuara, Bone (Sulawesi Selatan), menempuh program S1 di Internatioanal Islamic University Malaysia (IIUM) sampai selesai 1996. Ia kemudian menempuh program S2 di International Institute of Islamic Thought and Civilizartion (ISTAC) Malaysia sampai selesai 1999 dengan tesis Ibn Sina’s Theory of Intuition, dibawah bimbingan Alparslan Açikgenç.

Program S3 –juga di ISTAC- berhasil diselesaikannya pada 2004 dengan desertasi berjudul Ibn Sina’s Cosmology: A Study of the Appropriation of Greek Phlilisophical Ideas in 11th Century Islam, di bawah supervisi Paul Lettinck. Saat ini ia tengah menyiapkan disertasi keduanya di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe Universität. Franfurt, Jerman. Di samping Arab dan Inggris, bahasa yang telah (dan masih terus) diperlajarinya antara lain Greek, Latin, Jerman, Prancis, Hebrew dan Syriac.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Orientalisme dan Al-Quran, Kritik Wacana Keislaman Mutakhir
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» rahasai kepintaran yahudi
» ninjaku bingung mau diapain lagi ya...suhu2 disini tolong kritik dan sarannya ya..tp jgn yg mahal2
» Pengumuman & Pemberitahuan

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ISLAM & IPTEK :: KATAGORI UTAMA :: Kajian Agama Islam-
Navigasi: