ISLAM & IPTEK

Baku Beking Pande Dalam Kajian Islam & Iptek
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Forum JatonForum Jaton  Dunia Mualaf VidioDunia Mualaf Vidio  KristologiKristologi  Mesjid KitaMesjid Kita  Sain & Qur'anSain & Qur'an  Alam SemestaAlam Semesta  Jalan LurusJalan Lurus  Belajar Qur'anBelajar Qur'an  Mengaji ( Iqra' )Mengaji ( Iqra' )  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  
Share | 
 

 Ulil Akan Mati Dibunuh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting: 271
Join date: 30.01.08

PostSubyek: Ulil Akan Mati Dibunuh   Fri Feb 08, 2008 5:19 pm

Ulil Akan Mati Dibunuh


Ulil Abshar Abdalla kelak akan mati dibunuh, karena dianggap terlalu banyak tahu rahasia pihak asing yang dia ageni. Begitulah kira-kira spekulasi Ridwan Saidi, yang disampaikannya pada acara bedah buku “Ada Pemurtadan di IAIN” di IAIN Semarang tanggal 8 Juni 2005 lalu. Ridwan Saidi juga menambahkan, kematian Ulil tinggal tunggu waktu saja.[/img]
Selain di IAIN Semarang, bedah buku serupa juga berlangsung di Jakarta, 19 Juni lalu. Berikut ini adalah laporan lengkap Abu Qori dari forum bedah buku tersebut yang berlangsung di beberapa kota.
Dalam berbagai aspek, IAIN nyata-nyata berkiblat ke Barat, makanya bisa dirasakan adanya kecenderungan menyebarkan virus perusak (penghancur) iman. Virus penghancur iman itu telah merata di IAIN, STAIN, STAIS, UIN, dan bahkan sampai ke Fakultas Agama Islam di perguruan tinggi umum. Karena memang pendidikan agama Islam di perguruan tinggi di Indonesia ini kurikulumnya, sistem pengajarannya, dan dosen-dosennya berkiblat ke Barat, bukan ke Islam. Padahal sikap Barat terhadap agama (Islam) cenderung merusak.
Demikian rangkuman yang bisa diambil dari acara bedah buku “Ada Pemurtadan di IAIN” karya Hartono Ahmad Jaiz. Acara berlangsung Ahad, 19 Juni 2005 (bertepatan dengan 12 Jumadil Awwal 1426 Hijriah), di Masjid Pesantren Al-Husnayain pimpinan KH Ahmad Kholil Ridwan, alumni Gontor dan Jami’ah (Universitas) Islam Madinah. Pesantren Al-Husnayain terletak di Jl Lapan, Pasar Rebo, Cibubur, Jakarta Timur. Bertindak sebagai pembicara selain Hartono Ahmad Jaiz juga Dosen Pasca Sarjana IAIN Bandung Doktor Daud Rasyid, MA (alumni Kairo Mesir). Acara ini dipandu oleh Ustadz Mustofa Aini alumni Universitas Islam Madinah. Jama’ah yang hadir memenuhi masjid.
Doktor Daud Rasyid mengemukakan, di IAIN betul-betul terjadi pem-Barat-an. Bukan saja orang-orang jebolan dari Barat tapi juga asli dari Barat. Kata Daud yang bermarga Sitorus dari Batak ini. Tahun 1996 dia masuk IAIN Jakarta (sebagai tenaga pengajar), karena di program pascasarjana IAIN Jakarta belum ada guru hadits.
Ketika itu Daud Rasyid ditanya Harun Nasution, “Nama saudara siapa?”
“Saya Daud Rasyid.”
“Ya, nama ini tidak asing di kepala saya,” jawab Harun Nasution.
Sampai 3 tahun berturut-turut Daud Rasyid mengajar di IAIN Ciputat Jakarta, tetapi begitu Doktor Harun Nasution meninggal, Daud Rasyid pun diusir dari IAIN Ciputat oleh rektornya yang sekarang (Azyumardi Azra).
“Ketika saya tanyakan, kenapa saya tidak diberi jam kuliah di program pascasarjana IAIN, semua yang ada di sana diam seribu bahasa. Artinya, keberadaan saya di sana tidak mereka senangi, karena menurut mereka, membuat pusing. Karena tadinya murni orientasinya Barat, lalu ada orientasi Timur Tengah, ini jadi membingungkan,” keluh calon doktor di IAIN Ciputat Jakarta.
Pada setiap perkuliahan, Daud Rasyid mematahkan celotehan-celotehan para calon doktor yang berfikirnya model orientalis dan barat, dan mereka tak bisa menjawab. Lalu terjadi kebingungan, yang mana yang harus diikuti, Barat atau Timur Tengah?
Terakhir, menjelang Pak Harun meninggal, lanjut Daud, “Saya diminta jadi penguji tetap orang yang akan menjadi doktor. Materi ujian komprehensip itu tiga: Al-Qur’an, Hadits, dan Pemikiran Islam. Rupanya Pemikiran Islam ini mata kuliah wajib, untuk menanamkan Mu’tazilah kepada mereka. Kurang lebih setahun saya menjadi penguji, siapapun yang akan menjadi doktor harus berhadapan dengan saya, mata kuliahnya hadits. Nah di situ mereka ada yang sport jantung, ada yang mengeluarkan keringat dingin.”
“Pak Harun Nasution ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang Mu’tazilah (kepada mahasiswa calon doktor yang sedang diuji) dia melirik saya,” kenang Daud.
“Demikianlah, tetapi begitu Harun Nasution meninggal, saya sama sekali tidak diberi jam kuliah untuk mengajar. Katanya, saya sudah ditugaskan ke IAIN Bandung. Sekarang di IAIN Bandung pun saya menikmati keterusiaran saya. Dalam memberikan kuliah hadits, saya katakan, di sini kalau ada yang membawa-bawa faham-faham Syi’ah, Mu’tazilah dan lain-lain, silahkan di luar pagar. Ini kuliah hadits. Tidak menerima Syi’ah, Mu’tazilah dan lain-lain. Sampai di Universitas Ibnu Chaldun Bogor di pascasarjana, ada alumni IAIN Ciputat Jakarta, ternyata dalam makalahnya dia menyusupkan faham Syi’ah untuk membenci sahabat, asing, aneh, janggal dan bertentangan dengan hadits dengan cara yang halus sekali, tapi racun.”
Pemikiran di IAIN Prototipe dari Orientalis Barat
Jadi produk-produk IAIN sana, ungkap Daud Rasyid, “pemikirannya terkena percampuran Liberal, Mu’tazilah, kalau tidak ya Syi’ah, Shufiyah (Tasawuf). Ini semua merupakan prototype dari orientalis di Barat. Orientalis di Barat itu sebagaimana kata Dr Ismail Faruqi, yang dikabarkan mati terbunuh oleh agen-agen Zionis di Amerika, bahwa studi Islam di Barat itu adalah kumpulan dari pemikiran-pemikiran sesat; apakah itu yang namanya Syi’ah, Mu’tazilah, Shufiyah (Tasawuf), dan sejenisnya, di sana bergabung.”
“Tahun lalu saya mengunjungi 7 pusat studi Islam di Inggeris. Di antaranya di Brimingham, Manchester, Oxford dan lain-lain. Saya lihat langsung, bagaimana Islamic Studies itu, betul apa yang dinamakan oleh para pendahulu, bahwa Islamic Studies di Barat itu di bawah naungan apa yang dinamakan grand design (rancangan besar).”
“Seorang Kristen Koptik kuliah di Amerika, lalu ditugaskan dalam penelitiannya untuk mencari titik-titik kelemaham Al-Qur’an. Setelah meneliti, ia justru masuk Islam, tetapi resikonya harus menghadapi aneka tekanan yang harus diderita.”
Pada program Pascasarjana IAIN, lanjut Daud Rasyid, ada dua yang jadi sumber virus pemikiran di Indonesia, yaitu IAIN Jakarta dan IAIN Jogjakarta (kedua-duanya kini menjadi UIN –Uinversitas Islam Negeri). Jarang sekali seseorang yang sudah masuk ke sana masih terpelihara pemikirannya. Meski ada, tapi jarang sekali. Karena orang-orang yang masuk ke sana (program pascasarjana IAIN), begitu studium general (kuliah umum), Prof Harun Nasution berbicara:
“Saudara-saudara, pemikiran pemahaman anda yang ada di S-1 (doktorandus atau sarjana agama) itu semuanya harus disingkap hingga lepas. Semua pemahaman Islam yang anda dapatkan di S-1 itu semua harus dilepas. Sekarang kita masuk ke mimbar bebas pemikiran.”
Itu doktrin studium general bagi siapa saja yang baru memasuki program pasca sarjana IAIN. Setiap tahun pidato Harun Nasution itu diulang-ulang terus. Jadi dia kemukakan adalah, kalau dulu masih ada sisa cinta kepada Al-Qur’an, keberpihakan kepada Hadist, itu harus dibuang. Karena, di sini (program pasca sarjana IAIN) mengkaji Islam secara akademik, tidak berpihak kepada keimanan atau keyakinan. Artinya, tinggalkan semua akidah dan keimanan, begitu anda masuk kemari, begitulah kira-kira tafsirannya. “Jadi ini kalau terus dibiarkan, sangat berbahaya.” Tegas Daud Rasyid.
Apa Solusinya?
Ketika ditanya soal solusi, Daud Rasyid mengatakan, “Menteri Agama yang baru ini kan orang dari Gontor, yang masih koleganya Ust Kholil Ridwan (Pemimpin Pesantren Husnayain di Cibubur Jakarta Timur, penyelenggara bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN). Perlu ada usul kepada Menteri Agama, masalah kurikulum IAIN, mesti ditinjau ulang,” saran Daud.
“Kedua, soal pascasarjana. Pascasarjana ini penting, karena merupakan think tank-nya umat Islam. Maka perlu diusulkan kepada Menteri Agama, orang yang menjadi direktur pasca sarjana itu hendaknya lulusan Timur Tengah yang pikirannya benar-benar lurus. Sekarang ini direktur pascasarjana UIN Jakarta itu Qomaruddin Hidayat, Rektornya Azyumardi Azra, ya kloplah,” jelas Daud.
“Menteri Agama sekarang ini keluaran Timur Tengah, mantan Dubes di Arab Saudi, artinya bau-bau Ka’bah itu masih melekatlah sama dia. Jadi keberpihakannya itu masih diharapkan kepada pemikiran Islam yang shahih,” tandas Daud dengan nada harap.
Kasus Nasr Hamid Abu Zayd
Daud Rasyid juga menggugat didatangkannya Dr Nasr Hamid Abu Zayd, tokoh pengusung hermeneutika (metode tafsir bible) ke UIN Jakarta, padahal telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996.
“Dr Nasr Hamid Abu Zayd buru-buru kabur dari Mesir,” kata Dr Daud Rasyid, “karena Faraq Fauda yang belum divonis murtad oleh pengadilan saja sudah jadi bangkai dibunuh orang. Lha Nasr Hamid Abu Zayd yang sudah divonis Murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996 maka tinggal menunggu hari. Dengan demikian dia buru-buru kabur dari Mesir, lari ke Belanda. Lalu dia diangkat jadi guru besar di Leiden Belanda.”
“Sebelumnya, tim yang meneliti karya-karya Nasr Hamid Abu Zayd dipimpin oleh Prof Abdus Shobur Shahin telah menemukan bukti-bukti kemurtadan, di antaranya Al-Qur’an diaggap sebagai muntaj tsaqofi, produk budaya. Tim ini tidak meloloskan Nasr Hamid untuk meraih gelar professor, karena hasil karya tulisnya justru menghina dan menyalahi Islam. Tidak lolosnya karya ilmiyah sebenarnya hal biasa, namun oleh kelompok sekuler, hal itu dibesar-besarkan, hingga menjadi berita dunia, sampai hebohnya bergaung hingga di Eropa,” kata Daud Rasyid. “Lalu Nasr Hamid akhirnya dijadikan guru besar di Leiden Belanda.”
Pemurtadan secara sistematis
Sementara itu Hartono Ahmad Jaiz penulis buku “Ada Pemurtadan di IAIN” mengemukakan, pemurtadan di IAIN sudah merata bahkan seluruh perguruan tinggi Islam, sampai yang swasta bahkan Fakultas Agama Islam di perguruan tinggi umum sudah terkena pula, yaitu terkena virus pemurtadan. Karena kurikulumnya, sistem pengajaran, dan dosen-dosennya mengusung pemikiran yang merusak.
Menurut Hartono, yang dirusak yaitu:
1. Aqidah Islam, dari tauhid, mengesakan Allah, digeser ke kepercayaan pluralisme agama (menyamakan semua agama). Ini sangat menyelewengkan Islam, baik secara keyakinan maupun keilmuan. Jadi dari penegakan Tauhid justru dialihkan ke pemasaran kemusyrikan, penyaman semua agama.
2. Pemahaman Islam dirusak secara sistematis. Tidak merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan metode yang benar, tetapi merujuk metode Barat yang diprogram untuk mencela Islam dan merusak pemahaman Islam.
3. Penggeseran pembelajaran Islam, dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta aqidah Islamiyah (Tauhid) ke Sejarah Pemikiran Islam (SPI) dan Sejarah Peradaban/ Kebudayaan Islam (SKI). Bahkan SPI dan SKI itu dijadikan matakuliah dasar umum (MKDU) untuk semua fakultas dan jurusan di seluruh perguruan tinggi Islam, bahkan sampai ke Fakultas Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Dari situlah (dari dua mata kuliah dasar umum) yang diwajibkan kepada seluruh mahasiswa dan waktu semesternya bersambung-sambung itulah perusakan pemikiran dan pemahaman Islam dilancarkan secara sistematis oleh dosen-dosen yang sudah dirancang untuk mengusung faham model kafir Barat yang pada intinya adalah anti agama, dengan menghancurkan agama pakai faham pluralisme agama, menyamakan semua agama. Di antara alat untuk menghancurkan agama yaitu apa yang mereka sebut metode hermeneutic yaitu metode tafsir bible, yang telah mampu merusak agama Yahudi dan Kristen. Kini metode hermeneutika itu telah diajarkan di IAIN (UIN) Jakarta dan Jogjakarta.
4. Penggeseran pembelajaran Islam dari ahlinya, yaitu para ulama dan perguruan Islam di Timur Tengah dialihkan ke belajar Islam kepada orang kafir Yahudi, Nasrani ataupun kepada orang-orang yang mengaku Islam tetapi sekular dan berfaham aneh-aneh alias nyeleneh di perguruan-perguruan tinggi di Barat. Padahal para pendiri studi Islam di Barat sudah dikenal kebanyakan adalah para orientalis yang tujuannya: penjajahan, kristenisasi, dan pembaratan (kolonialisasi, kristenisasi dan westernisasi).
5. Pembelajaran Islam yang sebenarnya untuk membentuk generasi Islam yang faham Islam, dialihkan menjadi sarang-sarang dan pabrik pembaratan, perusakan Islam secara sitematis, menggantikan pabrik-pabrik perusakan Islam di Barat. Jadi perusakan Islam di Indonesia sudah ada pabriknya-pabriknya, yaitu IAIN-IAIN atau perguruan tinggi Islam se Indonesia untuk meliberalkan dan mempluralismekan agama umat Islam alias memusyrikkan. Sedang para pengasongnya atau pengetengnya adalah JIL (Jaringan Islam Liberal) pimpinan Ulil Abshar Abdalla dan 44 lembaga lainnya yang mengusung faham liberal dan pluralisme agama yang merusak Islam. Dana untuk perusakan Islam itu didapat dari lembaga-lembaga swasta kafir dan negara. Di antaranya satu lembaga kafir swasta saja membiayai 44 lembaga, dan untuk satu lembaga seperti JIL saja mendapatkan Rp1,4 miliar per tahun dari The Asia Foundation, lembaga kafir swasta yang berpusat di Amerika. Ulil Abshar Abdalla mengaku kepada Majalah Hidayatullah Desember 2004 bahwa dana Rp1,4 miliar yang dia terima per tahun dari The Asia Foundation itu kecil dibanding yang diterima oleh lembaga-lembaga lainnya (dari 44 lembaga di antaranya lembaga-lembaga di lingkungan NU, Muhammadiyah, IAIN, UIN, perguruan tinggi Islam swasta dan lain-lain). Satu lembaga swasta kafir saja sudah bisa membiayai 44 lembaga berfaham liberal yang memecundangi Islam. Padahal di Indonesia ini ada 48 lembaga swasta internasional. Dari 48 lembaga swasta internasional itu yang merupakan lembaga kafir sebanyak 47, sedang yang Islam hanya satu, namun yang satu itu pun yaitu Al-Haramain Foundation sudah dibredel oleh Amerika. Jadi yang 47 lembaga swasta kafir dibiarkan hidup. Bayangkan, satu lembaga kafir saja mampu membiayai 44 lembaga perusak Islam. Sedangkan satu-satunya lembaga Islam dibredel paksa. Inilah Indonesia di bawah penjajahan Amerika.
6. Di dunia ini ada kekuatan yang menghancurkan Islam dengan dua cara. Pertama dengan cara membunuhi secara fisik, misalnya yang terjadi di Irak, Afghanistan, Palestina, Thailand dan sebagainya. Kedua, pembunuhan keimanan seperti yang dilakukan di Indonesia yaitu mencabuti keimanan, dari tauhid ke pluralisme agama alias kemusyrikan, lewat pendidikan terutama di IAIN (UIN) dan lain-lain, di antaranya di 44 lembaga yang dibiayai swasta kafir. Semuanya itu dengan dana sangat besar. Dan bahkan sudah merambah ke pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah untuk diubah kurikulumnya dengan didanai Amerika sebesar 157 juta dolar (oleh lembaga resmi milik negara, belum lagi yang swasta). Sedangkan untuk perusakan kurikulum pendidikan Islam di dunia Islam maka didanai Amerika satu miliar dolar per tahun. Jadi umat Islam ini dibunuhi fisiknya, dan dibunuhi keimanannya. Pembunuhan keimanan ini lebih dahsyat dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau hanya pembunuhan fisik, maka ketika umat Islam dibunuh sedang iman di dadanya masih utuh, insya Allah masuk surga. Tetapi pembunuhan keimanan dengan melalui pendidikan yang pada dasarnya mencabuti keimanan, maka walaupun fisiknya masih hidup namun imannya mati, lalu ketika fisiknya mati maka masuk neraka. Itulah yang di dalam Al-Qur’an dinyatakan:
Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191).
Tekanan bahkan penggeseran keimanan itu lebih dahsyat dibanding pembunuhan.
...bersambung
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
 

Ulil Akan Mati Dibunuh

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» Pendeta kindemen dianiaya dan dibunuh oleh TNI
» Mati total netbook advan PIN-46125
» Tanda - tanda Akan terjadi Gempa dan Tsunami
» Kumpulan ceritayang Bila Ditelusuri Maknanya Akan Menjadi Sangat Menyeramkan!
» Ilmu Krionika dan pencarian akan Keabadian Hidup

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ISLAM & IPTEK ::  :: -