ISLAM & IPTEK

Baku Beking Pande Dalam Kajian Islam & Iptek
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Forum JatonForum Jaton  Dunia Mualaf VidioDunia Mualaf Vidio  KristologiKristologi  Mesjid KitaMesjid Kita  Sain & Qur'anSain & Qur'an  Alam SemestaAlam Semesta  Jalan LurusJalan Lurus  Belajar Qur'anBelajar Qur'an  Mengaji ( Iqra' )Mengaji ( Iqra' )  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 271
Join date : 31.01.08

PostSubyek: Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang   Fri May 23, 2008 6:46 pm


Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang


Imam Mahdi dan Gerhana: Perspektif Hadis

Ali Mustafa Yaqub
TIBA-tiba umat Islam gempar. Para penceramah Ramadan, yang biasanya menyampaikan uraian hikmah puasa dan ibadah-ibadah Ramadan, kini memberikan peringatan (warning) kepada jamaahnya akan kemungkinan segera datangnya hari kiamat yang mengerikan itu. Media massa juga ikut meramaikan prediksi datangnya hari kiamat itu dalam waktu dekat. Mereka menyebut hadis-hadis yang bekaitan dengan masalah itu. Sehingga, pada hari-hari menjelang akhir Ramadan, saat umat Islam akan bergembira menyambut hari Lebaran, sebagian justru ditimpa kecemasan dan ketakutan luar biasa karena harus bersiap-siap menghadapi peristiwa yang dahsyat itu.

Kegelisahan umat itu dipicu peristiwa luar biasa, yaitu terjadinya dua kali gerhana dalam sebulan. Pertama gerhana bulan total pada 14 Ramadan 1424 H (9 November 2003), dan gerhana matahari pada 28 Ramadan 1424 H (23 November 2003).

Oleh sementara orang, dua peristiwa itu bahkan disebut-sebut merupakan awal kemunculan Imam Mahdi. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam al-Daruqutni dalam kitabnya, Sunan al-Daruqutni, dan Imam Nu'aim bin Hammad al-Marwadzi dalam kitabnya, Al-Fitan. Maka, masalah ini sesungguhnya berkaitan dengan keimanan umat tentang datangnya Imam Mahdi menjelang hari kiamat.


Imam al-Kattani dalam kitabnya, Nadzm al-Mutanatsir min al-Hadits al-Mutawatir, yang khusus memuat hadis-hadis mutawatir, mencantumkan hadis turunnya Imam Mahdi itu. Pencantuman hadis Imam Mahdi itu menunjukkan bahwa hadis itu adalah mutawatir. Hadis mutawatir adalah hadis yang di dalam setiap jenjang periwayatannya (thabaqat al-ruwat) terdapat rawi-rawi minimal 10 orang. Dan mustahil mereka, menurut kondisi saat itu, melakukan persengkokolan untuk mendustakan Nabi.

Lebih jauh, Al-Kattani menyebutkan bahwa hadis datangnya Imam Mahdi, yang ditunggu-tunggu itu, diriwayatkan oleh sekurang-kurangnya 20 sahabat Nabi, antara lain Abdullah bin Mas'ud, Ummu Salamah, Ali bin Abu Talib, Abu Sa'id al-Khudri, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah al-Anshari, Amar bin Yasir, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abd al-Rahman bin 'Auf, 'Imran bin Husain, dan para radhiyallah 'anhum lainnya. Hadis Imam Mahdi itu kemudian ditulis para penulis (pembuku) hadis papan atas, antara lain Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Dawud al-Sijistani, Imam al-Tirmidzi, Imam al-Hakim al-Naisapuri, Imam al-Bazzar, Imam al-Tabrani, Imam Abu Nu'aim al-Isfahani, dan para rahimahumullah lainnya.

Kendati demikian, dalam disiplin ilmu hadis, kuantitas rawi yang sekian banyak itu tidak menjadi sebuah otoritas sehingga suatu hadis menjadi sumber ajaran Islam. Otoritas hadis adalah otentisitasnya. Sebuah hadis, meskipun hanya diriwayatkan seorang sahabat, apabila ia sahih (otentik, valid), memiliki otoritas (hujjiyah) sebagai sumber syariat Islam, baik dalam masalah akidah, hukum, maupun akhlak. Hadis-hadis Imam Mahdi ini jumlahnya cukup banyak.

Sementara itu, kualitasnya ada yang sahih, hasan, dan daif. Maka, secara keseluruhan, hadis-hadis Imam Mahdi itu memiliki kualitas ilmiah sangat kuat. Sehingga, menurut para ulama, datangnya Imam Mahdi menjadi suatu keyakinan yang harus dipegang umat Islam. Sementara itu, Al-Allamah Ibn Khaldun dalam kitabnya, Muqaddimah Ibn Khaldun, mengkritik hadis-hadis Imam Mahdi itu. Menurut dia, sanad-sanad (transmisi, silsilah keguruan) hadis-hadis Imam Mahdi itu mengandung illah (cacat ilmiah), sehingga tidak memiliki otoritas sebagai sumber ajaran Islam.

Kritik Ibn Khaldun itu dijawab para ahli hadis bahwa secara keseluruhan hadis-hadis itu mencapai peringkat mutawatir, sehingga tak perlu dipersoalkan lagi keotentikannya. Apalagi, Ibn Khaldun dikenal sebagai bukan ahli hadis, sehingga kapasitas kritiknya dinilai tidak akurat.

Konsep tentang turunnya Imam Mahdi, dalam akidah umat Islam, tidak terlepas dari peristiwa yang mendahuluinya. Pembicaraan tentang turunnya Imam Mahdi selalu dibarengkan dengan munculnya Dajjal, dan turunnya Nabi Isa AS. Hadis-hadis tentang munculnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa AS juga mencapai peringkat yang mutawatir. Peristiwa-peristiwa itu merupakan rangkaian dari tanda-tanda datangnya kiamat.

Imam al-Qurtubi menuturkan bahwa tanda-tanda hari kiamat itu terbagi menjadi dua. Pertama, tanda-tanda kiamat yang sudah biasa terjadi, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, seperti diangkatnya ilmu, merebaknya kebodohan, semaraknya perzinaan, dan banyak orang yang meminum khamr.

Kedua, tanda-tanda yang tidak biasa terjadi, dan tidak merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, seperti munculnya Dajjal serta turunnya Imam Mahdi dan Nabi Isa AS.

Al-Syaukani menuturkan dalam kitabnya, Al-Taudhih, bahwa hadis-hadis Imam Mahdi mencapai 29 hadis, yang kualitasnya bervariasi antara sahih, hasan, dan daif. Dan sebagian hadis Al-Mahdi tergabung dalam hadis-hadis tentang Dajjal.

Ada orang yang memahami bahwa munculnya Dajjal, Imam Mahdi, dan turunnya Nabi Isa AS itu sebagai suatu metaforisme (majazi, simbolik). Dajjal adalah simbol sebuah kezaliman yang menguasai dunia, sementara Al-Mahdi adalah simbol keadilan. Ada yang berpendapat bahwa Imam Mahdi itu adalah Nabi Isa itu sendiri. Tetapi, pendapat itu dibantah bahwa Al-Mahdi bukanlah Isa bin Maryam.

Al-Mahdi muncul dari kalangan umat Islam, dari keturunan Fatimah, dan namanya adalah Muhammad, sama seperti nama Nabi Muhammad SAW. Dan secara kebahasaan, Al-Mahdi adalah seorang yang mendapat hidayah. Sedangkan Isa bin Maryam bukan dari umat Nabi Muhammad SAW. Al-Mahdi turun bersama Isa bin Maryam, dan Isa bin Maryam salat di belakang Al-Mahdi.

Dalam kitab Sunan Abi Dawud, Nabi SAW menegaskan bahwa Al-Mahdi berasal dari keluarga beliau. Ia akan berkuasa selama tujuh tahun, kemudian wafat, dan disalati umat Islam. Dari keterangan ini, tampaknya konsep tentang datangnya Imam Mahdi bukanlah sesuatu yang metaforis, melainkan benar-benar secara fisik dan hakiki.

Tidak diketahui secara kongkret, kapan muncul pemahaman metaforis ini tentang Dajjal dan Al-Mahdi. Dalam kitab-kitab syarah tentang hadis-hadis Dajjal dan Al-Mahdi, pemahaman metaforis itu tidak ditemukan. Sebut saja, syarah kitab hadis yang relatif belakangan, yaitu kitab Tuhfah al-Ahwadzi Syarh Sunan al-Tirmidzi yang ditulis ahli hadis dari India, Al-Mubarakfuri (w. 1353 H), di dalamnya tidak terdapat pendapat ulama yang memahami bahwa munculnya Dajjal dan Al-Mahdi itu sebagai sesuatu yang metaforis.

Di kalangan masyarakat tertentu, juga ada konsep Ratu Adil, yang merupakan mitos yang ditunggu-tunggu masyarakat yang mencari keadilan. Tentu saja, mitos ini tidak dapat dikaitkan dengan Imam Mahdi, sebab konsep munculnya Imam Mahdi dasarnya adalah hadis-hadis yang sahih secara umum. Sedangkan konsep Ratu Adil tampaknya tidak memiliki argumen kuat. Hikmah dari turunnya Al-Mahdi itu sendiri tampaknya merupakan bukti keberpihakan Allah kepada kaum tertindas.

Kendati secara keseluruhan, hadis-hadis Imam Mahdi itu mencapai peringkat mutawatir, sebagaimana dituturkan Al-Syaukani, apabila diteliti satu per satu, hadis-hadis tersebut ada yang sahih, hasan, dan daif. Karena itu, hadis-hadis Imam Mahdi tidak semuanya memiliki otoritas sebagai sumber ajaran Islam, melainkan harus dipilah-pilah mana yang sahih, hasan, dan mana yang daif. Hadis-hadis Imam Mahdi yang mencapai peringkat sahih dan hasan dapat dijadikan hujjah, sehingga menjadi sumber ajaran Islam, termasuk dalam bidang akidah. Sedangkan hadis daif tidak dapat dijadikan hujjah dalam ajaran Islam, apalagi sebagai sumber akidah.

Di antara hadis Imam Mahdi yang kualitasnya daif (lemah) adalah hadis yang diriwayatkan Imam al-Daruqutni dan Imam Nu'aim bin Hammad al-Marwadzi sebagaimana disinggung tadi. Hadis riwayat Imam al-Daruqutni ini menyebutkan bahwa ada dua tanda untuk kemunculan Imam Mahdi, di mana hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya sejak diciptakannya langit dan bumi.

Dua tanda itu adalah gerhana bulan pada awal bulan Ramadan, dan gerhana matahari pada pertengahan bulan Ramadan. Hadis ini memiliki kelemahan ilmiah, antara lain ia bukan sabda Nabi SAW, melainkan ucapan seorang tabi'i, cucu sahabat Abdullah bin Abbas, yang bernama Muhammad bin Ali.

Ucapan seorang tabi'i (hadis maqthu'), menurut disiplin ilmu hadis, tidak memiliki otoritas sebagai sumber ajaran Islam. Karenanya, ucapan tersebut dinyatakan gugur demi ilmiah. Kelemahan kedua, dalam sanad hadis tersebut terdapat rawi bernama Amr bin Syamr al-Ju'fi. Dalam kitab Al-Jarh wa al-Ta'dil karya Imam Abu Hatim al-Razi, para ulama kritikus hadis menilai bahwa Amr bin Syamr al-Ju'fi adalah munkar al-hadits.

Karena itu, hadis tersebut disebut "hadis munkar", suatu kualifikasi hadis terburuk sesudah hadis maudhu' (palsu) dan hadis matruk (semipalsu). Karena itu, hadis (tepatnya ucapan seorang tabi'i) yang diriwayatkan Imam al-Daruqutni itu tidak memiliki otoritas sedikit pun sebagai sumber ajaran Islam, apalagi dalam masalah akidah.

Sedangkan hadis kedua yang diriwayatkan Imam Nu'aim bin Hammad al-Marwadzi dalam kitabnya, Al-Fitan, di mana disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menuturkan, apabila pada bulan Ramadan terdengar suara yang menggelegar, maka akan terjadi kekacauan pada bulan-bulan berikutnya, hadis ini juga dinyatakan daif, karena di dalam sanadnya terdapat dua rawi yang sangat lemah kualitas periwayatannya, yaitu Abdullah bin Lahi'ah dan Muhammad bin Tsabit al-Bunani.

Karena itu, pada gilirannya, hadis yang kedua itu pun jatuh dan tidak memiliki otoritas sama sekali sebagai sumber ajaran Islam. Dan tampaknya masih ada hadis lain yang mengisyaratkan fenomena alam sebagai tanda-tanda munculnya Imam Mahdi, namun kualitasnya juga tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam hadis-hadis sahih, Nabi Muhammad SAW justru menyanggah pengaitan gerhana itu dengan peristiwa tertentu. Dalam hadis itu diterangkan bahwa orang-orang mengaitkan gerhana yang terjadi pada masa Nabi itu dengan kematian seorang putra beliau, Ibrahim namanya. Nabi kemudian membantah bahwa peristiwa gerhana itu tidak ada kaitannya dengan kematian seseorang, gerhana adalah salah satu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah.

Pengaitan fenomena alam dengan peristiwa yang akan datang yang belum diketahui (umur ghaibiyah) sebenarnya merupakan sebuah tindakan yang beraroma jahiliah, karena di dalamnya terdapat prediksi-prediksi terhadap hal-hal yang gaib, sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh Allah. Karenanya, wajar sekali apabila dalam hadis sahih tadi, Nabi membantah peristiwa gerhana itu berkaitan dengan kematian putra beliau.

Terjadinya hari kiamat adalah sesuatu yang sangat gaib, yang tidak diketahui kapan persisnya kecuali oleh Allah saja. Dalam beberapa ayat Al-Quran, Nabi sering ditanya kapan terjadinya hari kiamat. Beliau selalu menjawab, "Urusan itu hanya Allah-lah yang tahu." Beliau hanya memberikan tanda-tandanya. Antara lain, tidak akan datang hari kiamat sampai tidak ada orang yang mau beribadah haji ke Baitullah. Dan, tidak akan datang hari kiamat sampai di muka bumi ini tidak ada orang yang menyebut asma Allah. Wallahu 'alam. (GTR)

*Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah, guru besar ilmu hadis IIQ, Jakarta


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Fri May 23, 2008 6:50 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 271
Join date : 31.01.08

PostSubyek: Re: Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang   Fri May 23, 2008 6:49 pm


Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang
imageBEGINILAH nasib "Imam Mahdi" Syamsuri, 63 tahun, yang tinggal di lereng Gunung Srawet, Banyuwangi, Jawa Timur. Di tengah keramaian orang berbicara soal kiamat, sosok yang pernah dihebohkan karena meramalkan akhir dunia itu malah adem-ayem. Rupanya, Syamsuri tak tahu bahwa pada Ramadan ini ada dua gerhana: bulan dan matahari.

Dulu, Syamsuri pernah meramalkan bahwa 9 September 1999 adalah hari kiamat. Ratusan orang diajak ke padepokannya menyambut kiamat tepat pukul 09.00 WIB. Sebelum ramalan itu terwujud, ia malah diciduk polisi. Palu hakim menghukumnya 11 bulan penjara.

Begitu ramalan kiamatnya pada 9-9-1999 meleset, dia berkilah. "Kiamat tetap akan terjadi dalam waktu dekat ini," katanya. Setelah kiamat, orang-orang terpilih yang masih hidup. Kakek 15 cucu inilah yang bakal memimpin mereka. Itu sebabnya, dia tetap menunggu kiamat, sambil mengurus kebun jeruk di belakang rumahnya.

Umumnya, mereka yang mengaku sebagai Imam Mahdi berakhir di penjara. Pada 1997, Buki Sahidin bin Syamsudin, warga Tasikmalaya, Jawa Barat, juga diganjar enam tahun delapan bulan penjara di pengadilan setempat. Buki dituduh menyebarkan ajaran sesat, antara lain menyatakan berbuka puasa jatuh pada pukul lima sore. Khusus Jumat, puasa cukup sampai pukul 09.00.

Romo Yoso, "Imam Mahdi" yang turun di Malang, Jawa Timur, pun terperosok ke bui. Dia mengaku sebagai penjelmaan Bung Karno yang akan membawa kemakmuran. Dari dokumen yang ditemukan polisi, Romo Yoso berencana menggulingkan pemerintah. Ia divonis tujuh tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Malang, 1988.

imagePerjalanan Lia Aminuddin lain lagi. Tahun 1997, ia memproklamasikan diri sebagai Imam Mahdi sekaligus Bunda Maryam. Dalam buku Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir, Lia mengatakan kedatangan bola api dari langit yang diyakininya sebagai Malaikat Jibril. Semula kelompok ini berbasis ajaran Islam, lalu melebar ke agama lain. Dari 70 anggota yang masih setia, ada beberapa yang nonmuslim.

Sebenarnya, kisah "Imam Mahdi" bisa ditemukan di setiap zaman. Tokoh yang selalu menjanjikan kesejahteraan ini sering muncul dengan berbagai nama. Buku Ratu Adil, karya Sartono Kartodirdjo, guru besar sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, misalnya, mengisahkan beragam kemunculan Ratu Adil --sebutan lokal bagi Imam Mahdi.

Ada Nyi Aciah yang mengaku sebagai Ratu Tegalluwar. Gerakan yang menyebar pada 1870-1871 di kawasan Jawa Barat ini menjanjikan pembebasan pembayaran pajak. Syaratnya, pemerintahan harus ditumbangkan dan diganti dengan Kerajaan Sunda. Aksi Nyi Aciah ini padam ditumpas pemerintah kolonial Belanda.

Masih pada waktu yang sama, terjadi gerakan Kobra di Jawa Tengah. Persisnya di Desa Karangkobar, Banyumas. Adalah Achmad Ngisa yang menggembar-gemborkan akan munculnya Pangeran Erucakra plus bala tentara setan, jin, dan hewan berbisa. Pangeran akan mengusir penjajah. Kemudian tampil tiga penguasa asal Majapahit, Pajajaran, dan Pekalongan.

Gerakan Achmad Ngisa ini berakar dari ajaran Syekh Jumadikubra yang berpusat di Pekalongan. Syekh inilah yang mula-mula meramalkan ada Pangeran Erucakra. Ia pun dibekuk pemerintah. Polisi mengungkapkan, Jumadikubra yang bernama asli Hasan Achmad ini pernah masuk rumah sakit jiwa karena mudah kesurupan.

Di Kediri hingga Madiun, Jawa Timur, muncul Ratu Adil Igama, 1887. Nama aslinya Jasmani, salah satu murid Kiai Amat Mukiar yang berpengaruh saat itu. "Ratu Adil" Jasmani akan memimpin Kerajaan Sultan Adil. Untuk itu, rakyat diminta berjuang mengusir penjajah, orang Cina, dan pribumi yang bekerja sama dengan mereka. Nasib Jasmani berujung pula di penjara.

Hampir bersamaan waktunya, di Ponorogo, Jawa Timur, muncul Achmad Suhada yang meramalkan akan berdiri kerajaan Islam murni. Ia meramalkan dirinya bakal jadi raja. Rakyat diprovokasi untuk berperang melawan penjajah. Suhada dan 20 pengikutnya pun dibekuk.

Pada 1924 di Tangerang, Banten, seorang petani bernama Kairin Bapa Kayah memimpin sebuah gerakan melawan kumpeni. Kairin yang pandai mendalang --dipanggil Bapa Dalang-- suatu hari saat mendalang kerasukan dan mengumumkan dirinya sebagai Ratu Rabulalamin.

Kairin mengaku menerima wahyu bahwa seluruh perkebunan di Tangerang adalah milik nenek moyangnya. Maka, orang Cina pemilik kebun tersebut mesti diusir. Sebab, di tanah itu akan didirikan kerajaan yang dipimpin Kairin yang bergelar Prabu Arjuna. Ketika pasukan Kairin merangsek ke Jakarta, polisi menembakinya. Sembilan belas orang dikabarkan tewas. (GTR)

Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang
imageTERJADINYA gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadan memunculkan beragam sikap di masyarakat. Komunitas Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang dipimpin Ustad Abu Bakar Ba'asyir menangkap fenomena ini sebagai telah dekatnya kehadiran Imam Mahdi. Sementara di Bandung, sedikitnya 280 jemaat --dari segala usia-- pimpinan Mangapin Sibuea menantikan hari kiamat pada Senin, 10 November lalu.

Kiamat urung tiba. Dan, jemaat Mangapin Sibuea dievakuasi aparat kepolisian, lengkap dengan ejekan, cemoohan, dan umpatan dari masyarakat. Tapi, mereka tetap berkeyakinan bahwa kiamat akan hadir sungguh-sungguh, nanti, pada 2007.

Dalam pandangan Islam, sebelum kiamat benar-benar terwujud, Imam Mahdi muncul ke permukaan bumi. Dia bertempur habis-habisan dengan Dajjal. Akhirnya, Dajjal terkalahkan, setelah Imam Mahdi --menurut sebagian riwayat-- dibantu Isa Al-Masih yang turun ke bumi.

Kehadiran Imam Mahdi yang sudah mendekati waktunya itulah yang ditangkap komunitas MMI. Adalah Fauzan Al-Anshari, Ketua Departemen Data dan Informasi MMI, yang sudah empat bulan ini sibuk memberikan ceramah dan diskusi tentang hadirnya Imam Mahdi. Ia berkeliling ke berbagai daerah, dengan tugas utama menyosialisasikannya. Fauzan dengan semangat menggebu-gebu begitu yakin bahwa kehadiran Imam Mahdi itu terkait dengan gerhana bulan dan matahari yang terjadi pada bulan suci Ramadan kali ini.

Fauzan tak mengada-ada. Ia menyandarkan argumentasinya itu pada hadis yang diriwayatkan Daruqutni dalam "sunan"-nya. Adalah Muhammad bin Ali berkata, "Sesungguhnya, Al-Mahdi yang kita nantikan itu memiliki dua mukjizat yang belum pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi, (yakni) bulan mengalami gerhana pada malam pertama (awal) bulan Ramadan, sedangkan matahari mengalami gerhana pada pertengahan bulan itu, dan kedua hal itu belum pernah terjadi sejak Allah menciptakan langit dan bumi."

Juga ada hadis yang diriwayatkan Nu'aim bin Hammad, guru Imam Bukhari, dalam kitabnya, Al-Fitan, "Bila telah muncul suara pada bulan Ramadan, maka akan terjadi huru-hara pada bulan Syawal.... Kami bertanya, 'Suara apakah, ya, Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Pada pertengahan bulan Ramadan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat pada tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan salat subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah, tutuplah pintu, sumbatlah lubang (ventilasi)-nya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian mendengar suara menggelegar, maka bersujudlah kepada Allah dan ucapkanlah: subhaanal-quddus, subhaanal-quddus, rabbunal-quddus! Karena, barang siapa melakukan hal itu akan selamat, tetapi siapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa'."

Tak berhenti sampai di sini. Setelah terjadi dua gerhana di bulan suci Ramadan, lalu ada ledakan di dalamnya. Peristiwa berikutnya adalah huru-hara pada bulan Syawal. Di bulan Zulkaidah akan terjadi konflik antarsuku dan perselisihan antarnegari umat Islam. Lalu, pada bulan Zulhijah, di musim haji, akan terjadi perampokan terhadap para jamaah haji dan peperangan antarsuku dan bangsa muslim. Darah mengalir di Jumrah Aqabah. Berikutnya adalah munculnya Imam Mahdi, yang akan dibaiat kaum muslimin pada hari Asyura (10 Muharam).

Hadis yang dikutip Fauzan itu berasal dari dua buku karya ilmuwan asal Mesir, Amin Muhammad Jamaluddin, Huru-hara Akhir Zaman: Penjelasan Terakhir untuk Umat Islam, dan Umur Umat Islam: Kedatangan Imam Mahdi & Munculnya Dajjal. Apa yang dikemukakan Fauzan itu didukung penuh oleh Ustad Abu Bakar Ba'asyir.

Tak hanya Fauzan, beberapa aktivis MMI juga tengah menjadi tim sukses akan hadirnya Imam Mahdi. Itu dilakukan di setiap ceramah dan pengajian-pengajian yang mereka lakukan. Dan buku Amin Jamaluddin menjadi pegangannya. Juga beredar poster-poster yang diterbitkan Granada Solo. Isinya, antara lain, bertajuk Petaka Akhir Zaman dan Imam Mahdi versus Dajjal.

Di Koperasi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, poster-poster tersebut bisa dibeli dengan harga Rp 8.000 per poster. Ada delapan poster yang diterbitkan, tapi hanya tiga yang berkait langsung dengan Imam Mahdi. Baik buku maupun poster laris manis, terjual ribuan ribuan --bahkan puluhan ribu-- eksemplar.

Meski gencar mempromosikan hadirnya Imam Mahdi, tak ada ritual khusus dalam menyongsong kehadiran dua gerhana di bulan Ramadan ini. Hanya, ketika mendengar suara keras di tengah-tengah bulan Ramadan, orang muslim dianjurkan bersujud dan berdoa: subhanal-quddus, subhanal-quddus....

Adapun dua buku Amin Jamaluddin itu dua bulan lalu dibedah di Pondok Pesantren Ngruki, Solo, Jawa Tengah, yang diasuh Ustad Abu Bakar Ba'asyir. Sebelumnya, buku tersebut pernah beberapa kali dibahas di beberapa tempat di Solo. Bahkan, bagi santri di Ngruki dan Pondok Pesantren Al-Islam, Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, tak lagi asing dengan dua buku itu.

Dalam pandangan Ustad Abdurrahman, putra Ustad Abu Bakar Ba'asyir, dua buku karya Amin Jamaluddin itu lebih bersifat memberi teguran pada umat Islam. "Bahwa umat Islam itu sekarang sudah berada di depan mulut singa," katanya.

Karena itu, persiapan fisik menyambut Imam Mahdi pun dilakukan. Ini dilakukan Ustad Muhammad Zakaria, pengasuh Pondok Pesantren Al-Islam, Tenggulun. Zakaria, yang pernah nyantri di Ngruki dan pengagum berat Ustad Abu Bakar Ba'asyir, percaya bahwa kehadiran Imam Mahdi sudah dekat. Karena itu, ia menyerukan kepada umat Islam agar mempersiapkan diri.

Caranya? "Ya, dengan bekal takwa. Kapan pun Imam Mahdi datang, kita sudah siap," tutur Zakaria kepada M. Syaifullah dari GATRA. Zakaria juga mempersiapkan santrinya secara fisik. Ini karena Zakaria berkeyakinan, kedatangan Imam Mahdi nanti akan menimbulkan perang fisik. "Lho, nanti kan akan terjadi perang dengan orang kafir," katanya, enteng.


Sinyal-sinyal itu sudah ada. Menurut Zakaria, penyerangan atas Irak, Afghanistan, dan berkumpulnya pasukan Eropa di kawasan Kuwait merupakan pertanda bahwa perang antara umat Islam dan non-Islam sudah terjadi.

Tapi, rupanya, kalangan MMI sendiri belum bulat pendapat. Ketua Tanfidiyah MMI, Irfan Suryahadi Awwas, punya pandangan beda. Ia meyakini bahwa Imam Mahdi itu ada dan akan hadir. "Tapi, kapan dan siapa itu, t
ak ada penjelasan. Itu rahasia Allah," katanya. Itu sebabnya, menurut Irfan, pihaknya kini sedang meneliti kesahihan hadis-hadis di seputar Imam Mahdi tersebut.

Keruan saja, sikap yang ditunjukkan Fauzan dan kawan-kawan menuai kontroversi, baik dari kalangan salafi, semisal Ustad Ja'far Umar Thalib, maupun dari kelompok liberal seperti Zainun Kamal. Mantan Panglima Laskar Jihad, Ja'far Umar Thalib, tak mau mengaitkan dua gerhana itu dengan kehadiran Imam Mahdi. Baginya, Imam Mahdi, sebagai sosok orang yang berilmu dan pemimpin umat, akan hadir tapi tak ada kaitannya dengan dua gerhana di bulan Ramadan ini.

Begitu pula Zainun Kamal. Dalam pandangan dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta ini, adanya sosialisasi terhadap Imam Mahdi adalah cerminan umat Islam yang frustrasi. "Ini merupakan kemunduran," ujarnya. Tentang Imam Mahdi itu, Zainun menyandarkan pendapatnya pada ulama asal Iran, Murtadha Mutahhari.

Dalam pandangan Murtadha, Mahdi itu kan artinya yang memberi petunjuk. Ia tak akan datang kalau kita tidak berusaha semaksimal mungkin. Keadilan juga tak akan datang kalau kita tidak berjuang sungguh-sungguh. Keberhasilan dari usaha itulah yang disebut Mahdi datang. Sifatnya simbolis. "Jadi, jangan dianggap person atau pribadi yang akan datang," kata Zainun, yang selalu menekankan untuk menyikapi persoalan secara cerdas.

Pendapat senada dilontarkan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqiel Siraj. "Imam Mahdi itu sebagai perlambang kemenangan kelompok-kelompok yang membela kebenaran mengalahkan kezaliman," tuturnya. Dalam pandangan Said, Imam Mahdi datangnya mendekati hari kiamat. "Dan, menurut saya, hari kiamat masih jauh. Masih banyak orang salat, masih banyak orang baik-baik," ia menjelaskan. "Di Jakarta saja masih banyak orang baik. Belum tahu karaoke, belum tahu mandi uap, belum tahu massage," kata Said, sembari mengumbar tawa.

Lain lagi pendangan Rektor IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Amien Abdullah. Menurut dia, fenomena alam seperti gerhana itu selalu memunculkan mitos yang diyakini masyarakat tertentu. "Apalagi kalau dilegitimasi dengan hadis," tuturnya. Amien melihat hal itu wajar-wajar saja. Tentang pertanda munculnya Imam Mahdi? Dengan enteng, Amien mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja. "Pertanda itu kan bisa 1.000 atau 2.000 tahun lagi kejadiannya?" ia menambahkan.

Bila dirujuk pada teks hadis yang berkaitan dengan Imam Mahdi, derajatnya dari yang sahih, hasan, sampai daif (lihat kolom Ali Mustafa Yakub), persoalannya menyangkut keyakinan. Dalam pandangan sebagian komunitas MMI, umat Islam dunia sudah mulai ditindas pihak Barat yang beda agama. Ketika menemukan hadis tentang dua gerhana di bulan suci, mereka pun yakin bahwa Imam Mahdi segera hadir. Andaikan tak jadi hadir, tiada merubah keyakinan mereka. Bukankah setiap peristiwa alam --meminjam istilah Amien Abdullah-- akan memunculkan mitos?

Dunia Belum Kiamat


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Fri May 23, 2008 6:51 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
Admin
Admin


Jumlah posting : 271
Join date : 31.01.08

PostSubyek: Re: Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang   Fri May 23, 2008 6:50 pm

Dunia Belum Kiamat

DI kalangan astronom, dua gerhana dalam bulan yang sama bukanlah hal istimewa. Pada Juli 2000, misalnya, terjadi tiga kali gerhana. Gerhana bulan terjadi dua kali, tanggal 1 dan 31 Juli, sedangkan gerhana matahari pada 16 Juli.

Menurut Direktur Peradilan Agama, Departemen Agama, Wahyu Widiana, gerhana terjadi bila bumi mengelilingi matahari pada satu bidang atau garis edar, di mana bidang yang sama digunakan dalam aktivitas bulan mengelilingi bumi. "Ini mengandung konsekuensi, tiap bulan akan terjadi dua gerhana (bulan dan matahari), terjadi pada awal dan akhir bulan," katanya.

Jika ekliptika bulan dalam mengitari bumi membentuk sudut 90 derajat, yang terjadi adalah peristiwa normal. Adapun dua gerhana yang terjadi di bulan Ramadan ini memiliki kondisi di mana bidang antara peredaran bumi mengelilingi matahari dan peredaran bulan mengelilingi bumi berimpit, kemiringan bidang edarnya hanya 5 derajat. "Dan ini adalah fenomena yang sering terjadi," tutur Wahyu.

Dalam abad ke-20, sepanjang 1901-2000 M, terjadi 228 gerhana matahari dan 147 gerhana bulan. Rata-rata gerhana terjadi empat kali dalam setahun. Pada 2003 ini, gerhana bulan total terjadi pada 16 Mei dan 9 November, sedangkan gerhana matahari cincin terjadi pada 31 Mei dan gerhana matahari total pada 24 November.

Lalu, bagaimana orang menginterpretasikan dua gerhana di bulan Ramadan ini? KH Fahmi Basya punya interpretasi yang ditambatkan pada Al-Quran. Menurut kiai yang pernah menjadi aktivis pada 1970-an ini, kata kuncinya adalah ahad (esa/satu). Dari peristiwa tersebut, masih kata peneliti di Pusat Studi Islam dan Kepurbakalaan, Jakarta, itu, Allah kembali mendeklarasikan ahad kepada umat manusia. "Karena, dulu kebangkitan Islam dari kata ahad, yaitu ketika Bilal memproklamasikan kata ahad. Itulah yang mendorong kebangkitan umat," ujarnya.

Fahmi sampai pada kesimpulan itu setelah menghubungkan antara waktu peristiwa dua gerhana dan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan "yaumul qiyamah" (surah Al-Qiyamah ayat 6-9). Yang dimaksud "yaumul qiyamah" bukan "hari kiamat" sebagaimana kerap diterjemahkan, melainkan "hari segaris lurus". Sedangkan terjemahan untuk hari kiamat dalam bahasa Arab, menurut Fahmi, adalah "as-saa'ah".

Adapun dua gerhana yang terjadi pada bulan Ramadan ini menunjuk ke ahad (satu). Gerhana bulan pada 9 November (14 Ramadan 1424) terjadi pada hari Ahad. Gerhana matahari pada 23 November (28 Ramadan 1424) juga terjadi pada hari Ahad.

Fahmi tak melihat fenomena ini sebagai pertanda mendekatnya kehidupan manusia dengan hari kiamat. Qiyamah sebagai garis lurus, dan ternyata fenomena gerhana itu ada di surah Qiyamah. Bulan jadi gelap, dikumpulkan bulan dengan matahari, terjadilah gerhana.

Menurut Fahmi, selama ini penafsiran umat Islam sudah kelewatan. "Karena konsentrasinya 'qiyamah' itu bencana hebat. Padahal, bisa jadi, maknanya sesuatu yang lurus," tuturnya. "Semua itu ternyata ada dalam Al-Quran," ia menjelaskan. Fahmi menyosialisasikannya lewat "pengajian internet". Jamaahnya mencapai 600 orang, dan mendapat respons dari berbagai wilayah, termasuk Malaysia. (GTR)

Pondokan "Sekte Hari Kiamat" Dirusak Massa

Bangunan pemondokan "Sekte Hari Kiamat" Pondok Nabi pimpinan Mangapin Sibuea di Jl Siliwangi Baleendah Kabupaten Bandung, Jumat siang, digrebek oleh massa yang memasuki dan melakukan perusakan di dalam bangunan itu.

Massa yang terdiri dari para pemuda, dewasa dan anak-anak dari RW 10 Kampung Cigado Kelurahan Baleendah Kabupaten Bandung itu datang serentak sekitar pukul 12.45 WIB, atau beberapa saat setelah Shalat Jumat.

Mereka langsung mendatangi dan masuk ke dalam bangunan `pondokan` (Pondok Nabi) yang sebelumnya digunakan tempat untuk berkumpulnya jemaah "Sekte Hari Kiamat" pada 10 November 2003 lalu itu.

Sementara itu, delapan lima orang keluarga Mangapin Sibuea dan tiga orang anggota Polisi yang sedang membersihkan dan membereskan isi bangunan itu tidak bisa mencegah massa yang jumlahnya ratusan itu.

Aksi massa dimulai dengan merubuhkan pagar kayu di depan Pondok Nabi itu. Mereka juga membuka "garis polisi" yang melilit bangunan itu sejak Senin (10/11) lalu.

Tidak puas meruntuhkan pagar depan, massa kemudian masuk ke dalam pondokan dan melakukan perusakan di dalam bangunan yang sudah dikosongkan itu. Beberapa kantong tempat penyimpanan pakaian jemaat "Sekte Hari Kiamat" itu diobrak-abrik. Selain itu, massa juga membongkar sekat-sekat pemondokan yang terbuat dari kayu tripleks itu.

Massa juga merusak bagian pintu dan eternit (langit-langit) bangunan itu hingga bolong-bolong.

Aksi massa yang berlangsung sekitar 20 menit itu akhirnya bisa diantisipasi setelah anggota Polisi dari Polsek Baleendah tiba di lokasi dan mendesak agar massa keluar dari bangunan itu.

Namun pada saat petugas menjaga dan mempagar betis bangunan `Pondok Nabi` itu, massa beralih melakukan pengrusakan di rumah yang selama ini digunakan untuk sekretariat `Sekte Hari Kiamat` itu yang terletak di Jl Siliwangi 55.

Massa yang sudah memuncak emosinya itu merobohkan pagar rumah dan melakukan pelemparan dengan batu yang mengakibatkan genting dan kasa rumah itu rusak.

Petugas akhirnya melakukan gerakan refresif untuk mendesak massa agar kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan suasana di sekitar lokasi kejadian sempat mencekam dan menjadi tontonan masyarakat, sedangkan Jl Siliwangi diblokir massa.

Setelah dilakukan negosiasi dengan petugas, akhirnya massa membubarkan diri dan pulang ke rumahnya masing-masing.

Menurut keterangan Juhana (46) Ketua RW 10 Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, ia sudah berusaha mencegah terjadinya aksi anarkis dan perusakan itu. Namun demikian saat itu, lanjut Juhana, massa sudah tidak bisa menerima dan merasa dibohongi oleh kelompok "Sekte Hari Kiamat" pimpinan Mangapin itu.

"Kami selama ini memang tidak pernah tahu aktifitas mereka karena sangat tertutup, warga tampaknya sudah kesal sehingga bertindak seperti ini, saya sudah mencoba mengatasi namun mereka spontan bergerak," kata Juhana.

Sementara itu, Kapolsek Baleendah, AKP Fama Dachi mengaku tidak menyangka akan terjadi penggerebegan oleh massa karena perkembangan situasi di sekitar lokasi itu sangat kondusif.

"Memang kami menempatkan beberapa orang personil anggota di sana namun jumlahnya tidak sebanding. Saat ini pondokan dan rumah di sana kembali dijaga ketat," kata Famma Dachi. [Tma, Ant]
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
Sponsored content




PostSubyek: Re: Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang   

Kembali Ke Atas Go down
 
Tafsir Gerhana, Imam Mahdi, dan Kiamat Menjelang
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ISLAM & IPTEK :: KATAGORI UTAMA :: Forum Diskusi-
Navigasi: