ISLAM & IPTEK

Baku Beking Pande Dalam Kajian Islam & Iptek
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Forum JatonForum Jaton  Dunia Mualaf VidioDunia Mualaf Vidio  KristologiKristologi  Mesjid KitaMesjid Kita  Sain & Qur'anSain & Qur'an  Alam SemestaAlam Semesta  Jalan LurusJalan Lurus  Belajar Qur'anBelajar Qur'an  Mengaji ( Iqra' )Mengaji ( Iqra' )  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 Megenai Ilmu Laduni

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 271
Join date : 31.01.08

PostSubyek: Megenai Ilmu Laduni   Tue May 20, 2008 11:46 pm

Megenai Ilmu Laduni

“ Barang siapa yang menjadikan kisah nabi Khidir as dengan nabi Musa
as sebagai alasan untuk menggantikan wahyu dengan ilmu laduni
–sebagaimana pendapat orang- orang yang tidak mendapatkan taufik dari
Allah-, maka orang itu adalah atheis dan zindiq, karena sesungguhnya
nabi Musa as tidaklah diutus kepada nabi Khidir as, dan nabi Khidir pun
tidak diperintahkan untuk mengikuti nabi Musa as “ ( Ibnu Abdul Izz Al
Hanafi)


Ahmad Zein MA,Cairo
Kita akan memperluaskan sedikit pembahasan tentang Ilmu laduni ini,
karena semakin banyak orang Islam yang mengaku telah memiliki ilmu aneh
ini, kemudian membuat kekacauan dikalangan umat Islam. Sehingga, perlu
bagi seorang muslim yang ingin menjaga aqidahnya untuk mengetahui
hakekat ilmu laduni tersebut. Disana ada beberapa pertanyaan :
Mungkinkah ilmu laduni ini bisa dicari ? Apakah ilmu ini merupakan
pemberian Allah kepada orang-orang tertentu, sehingga tidak semua orang
bisa memilikinya ? Apakah orang yang memiliki ilmu ini sudah sampai
derajat keimanan yang sangat kuat, sehingga dibolehkan meninggalkan
sebagian kewajibannya sebagai orang muslim, sebagaimana diyakini oleh
sebagian orang ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut insya Allah akan terjawab dalam tulisan di bawah ini

Menelurusi hakikat ilmu Laduni


Kalau kita buka lembaran Al Quran, ternyata hanya ada satu tempat yang
menyebutkan “ ilmu laduni “ secara jelas, yaitu di dalam surat Al Kahfi
ayat 65. Walaupun harus diakui, ada ayat-ayat lain yang mungkin
mencakup pembahasan ilmu laduni ini, tetapi secara tidak langsung.
Allah berfirman menceritakan nabi khidhir as. :
“ Maka mereka berdua ( Nabi Musa dan pembantunya ) mendapatkan
seorang hamba dari hamba-hamba Kami ( yaitu nabi khidir), yang telah
Kami anugrahi rohmat dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi
Kami ( Allah ). “ ( QS. Al Kahfi; 65 )


Ayat diatas adalah dasar pembahasan ilmu laduni, bahkan salah satu ayat
yang dijadikan referensi utama oleh kelompok tertentu untuk membenarkan
keyakinan mereka yang sesat. Mereka menjadi sesat karena menafsirkan
ayat tanpa ada dasar keilmuan yang jelas.

Ayat diatas menyebutkan lafadh “ Ladunna “( huruf akhir
adalah “ a”) , yang berarti : “ dari sisi Kami ( Allah ) “ , Ilmu
Ladunna berarti ilmu dari sisi Allah. Yang kemudian berkembang dan
menjadi ilmu Ladunni ( pakai huruf “ i “).

Kita belum mengetahui secara pasti, mulai kapan istilah ilmu laduni itu
muncul, ( walaupun sebenarnya bisa diprediksikan muncul setelah abad ke
3 hijriah, bersamaan dengan munculnya kelompok-kelompok sempalan dalam
Islam ) . Tapi yang jelas, ilmu laduni dinisbatkan pertama kalinya
kepada Nabi Khidhhir as. Karena memang teks ayat diatas berkenan dengan
cerita Nabi Khidhir as.

Ilmu laduni-nya Nabi Khidhir menurut surat Al Kahfi – difokuskan pada
satu masalah saja, yaitu pengetahuan tentang masa depan, walau secara
rinci digambarkan dalam tiga peristiwa, yaitu merusak kapal yang sedang
berlabuh di pinggir pantai, membunuh anak kecil yang ditemukan di
tengah jalan, dan memperbaiki dinding yang mau roboh.

Kalau kita padukan antara ilmu laduni dengan ketiga peritiswa di atas,
akan kita dapati benang merah yang menghubungkan antara keduanya, yang
konklusinya sebagai berikut : Ilmu laduni adalah ilmu yang bersumber
dari Allah swt ( dan Allah sajalah Yang memegang kunci-kunci alam ghoib
), sedang inti dari ilmu laduni yang dimiliki Nabi Khidhir as adalah
pengetahuan tentang masa depan yang nota benenya adalah ilmu ghoib ,
berarti ilmu laduni yang diajarkan kepada nabi Khidhir adalah ilmu
ghoib.

Oleh karenanya, kalau kita katakan bahwa Khidhir as adalah seoran Nabi
- dan ini adalah pendapat yang benar -, maka Allah telah mengajarkan
kepada Nabi Khidhir sebagian ilmu ghoib, dan ini wajar-wajar saja,
karena salah satu ciri khas wahyu adalah pengetahuan tentang sebagian
ilmu ghoib. Dan hal ini hanya dimiliki oleh para nabi dan utusan Allah
atau orang-orang yang dikehendaki Allah swt, sebagaimana yang termaktub
di dalam firman-Nya :
“ Dia-lah 9 Allah ) Yang mengetahui ghoib dan Dia tidak
memperlihatkan tentang yang ghoib tersebut kepada siapapun juga.
Kecuali kepada para Rosul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia
mengadakan penjaga-penjaga ( Malaikat ) di muka dan di belakangnya “ (
QS. Jin : 26-27)


Namun seiring dengan berjalannya waktu, istilah ilmu laduni menjadi
berkembang artinya. Yaitu setiap orang yang mempunyai kelebihan yang
aneh-aneh ( yang diluar kewajaran manusia ), mereka menganggapnya
mempunyai ilmu laduni. Seperti kalau kita melihat seseorang berjalan
diatas air, atau mengetahui kejadian pada masa yang akan datang , atau
dia bisa masuk batu dan selamat dari kepungan musuh atau bisa melihat
sesuatu kemudian menjadi hancur dan lain-lainnya. Bukan hanya itu saja,
orang yang bisa menghafal sesuatu dengan cepat, atau mampu menjawab
pertanyaan- pertanyaan dalam ujian, tanpa kelihatan dia belajar
sebelumnya, sering di klaim, telah memiliki ilmu laduni. Maka jika
sekarang, ada orang yang tiba-tiba mengaku mempunyai ilmu laduni, bisa
nggak kita mempercayainya?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita harus merinci dahulu permasalahannya, pada point-point di bawah ini :

1. Kalau yang dia maksudkan ilmu laduni seperti yang dimiliki
nabi Khidir as, atau sejenisnya, maka kita tidak boleh mempercayainya
sama sekali, karena itu hanya dimiliki oleh para nabi. Kalau dia
mengakui memilikinya, sama saja kalau dia mengaku mendapatkan wahyu
dari langit atau dengan kata lain dia mengaku nabi, karena yang didapat
nabi Khidir tidak lebih dari pada sebuah wahyu.

Seseorang mungkin bisa mengetahui ilmu ghoib dengan perantara Jin atau
syetan. Karena Jin dan syetan sering mencuri pendengaran tentang
hal-hal ghoib dari langit. Sebagaimana firman Allah di dalam surat Al
Hijr : 17-18,

“ Dan Kami jaga langit-langit tersebut dari syetan yang terlaknat,
kecuali mereka yang mencuri pendengaran ( dari hal-hal yang ghoib ) ,
maka dia akan dikejar oleh batu api yang nyata “


Ayat – ayat senada juga bisa dilihat di dalam surat As Shoffat :10 dan surat Jin: 9.

2. Tapi kalau yang dia maksudkan ilmu laduni adalah ilmu-ilmu
kanuragan ( ilmu kesaktian ) yang ia dapatkan dengan latihan-latihan
tertentu, seperti bertapa di tengah sungai selama 40 hari 40 malam,
atau puasa selama 40 hari berturut-turut, atau dengan hanya makan nasi
putih saja tanpa lauk dalam jangka waktu tertentu atau dengan cara-cara
lain yang sering dikerjakan orang. Maka kita akan teliti dahulu, apakah
cara-cara seperti itu pernah diajarkan oleh Rosulullah saw dan para
sahabatnya atau tidak ? Kalau jawabannya tidak, berarti dia mendapatkan
ilmu tersebut dengan meminta bantuan dari jin dan syetan. Sebagaimana
kita banyak dapati sebagian orang bisa kaya mendadak dengan meminta
bantuan Jin dan Syetan. Perbuatan seperti ini dilarang oleh Islam,
sebagaimana firman Allah didalam surat Jin : 6

“ Dan sesungguhnya ada diantara manusia yang meminta perlindungan
dari segolongan Jin , maka segolongan Jin itu hanya aka menambah kepada
mereka kesusahan. “


Kita dapati banyak orang pada zaman sekarang yang memelihara Jin untuk
memperoleh kekayaan dengan cepat, akhirnya dia menjadi “ tumbal” jin
yang ia pelihara. Jin itu memangsa tuannya sendiri. Sungguh Maha Benar
Allah dengan segala firman-Nya.

3. Jika ilmu laduni tersebut dia dapatkan dengan bertaqwa kepada
Allah dengan menjalankan perintah- perintahNya serta menjauhi segala
larangan-Nya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rosulullah saw, maka
kita harus percaya kepadanya, tetapi tidak kita sebut ilmu laduni, kita
sebut karomah atau ilham atau firasat, menurut jenis kelebihan yang ia
punyai. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah : 282

“ …dan bertaqwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu …”

Firman Allah di dalam surat Al Hijr : 75

“ Dan sesungguhnya pada peristiwa tersebut ( hancurnya kaum Luth ) merupakan tanda bagi orang- orang yang mempunyai firasat “

Dan banyak dalil –dalil lain yang menyebutkan adanya istilah-istilah tersebut dalam ajaran Islam .

Perlu di garis bawahi, bahwa orang yang punya kelebihan tersebut tidak
akan mengaku- ngaku atau mengumumkan ilmu yang ia miliki di depan umum
, kecuali kalau ada maslahat dibalik pemberitahuannya, sehingga dengan
terpaksa dia memberitahukan ilmunya itu kepada orang lain. Wallahu
a’lam.

Beberapa catatan penting



Ada beberapa hal yang perlu penulis tambahkan disini:

(1) Yang pertama :
Bahwa nabi Khidir as tidak diutus kepada nabi Musa as. , sehingga nabi Musa harus mengikuti ajaran nabi Khidir

(2) Yang kedua :
Nabi khidir as,– menurut sebagian para ulama- diutus kepada kaum
tertentu, sebagaimana nabi Musa as hanya diutus kepada Bani Israil. Dan
suatu hal yang sangat wajar sekali, apabila di satu zaman ada dua nabi
atau lebih. Buktinya ? Dalam surat Yasin ayat 13-14, Allah berfirman :

“ Berikan ( wahai Muhammad ) kepada mereka sebuah permitsalan para
penduduk suatu negri , ketika datang kepada mereka para utusan Allah .
Ketika Kami utus kepada mereka 2 orang rosul, maka mereka mendustakan
keduanya, maka Kami perkuat dengan rosul yang ketiga, mereka berkata ;
“ Sesungguhnya kami adalah utusan Allah kepada kamu sekalian “


Contoh yang lain adalah nabi Ibrohim, Ismail, Ishaq dan nabi Luth
mereka hidup dalam satu zaman. Begitu juga nabi Daud dan Sulaiman, nabi
Ya’qub dan Yusuf , nabi Musa , Harun dan Syu’aib, dan terakhir nabi
Zakaria, Isa dan Yahya.

(3) Yang ketiga :
Nabi Khidir as juga bukan pengikut nabi Musa as dan tidak diperintahkan
untuk mengikutinya, sehingga boleh-boleh saja bagi nabi Khidir as,
berbuat tidak seperti apa yang diajarkan nabi Musa as, karena setiap
nabi mempunyai manhaj dan syareah yang berbeda-beda.

Kemudian setelah itu datang orang Islam “ yang nyleneh ” mengaku
sebagai wali Allah dan mempunyai ilmu laduni , sehingga membolehkan
dirinya keluar – atau tidak mengikuti syareah yang di bawa nabi
Muhammad saw.( Na’udzibillahi mindzalik).

Jangankan dia, yang namanya nabi Isa as saja, nantinya kalau turun ke
bumi lagi untuk membunuh Dajjal, akan ikut dan patuh dengan syareat
nabi Muhammad saw.

Berkata Ibnu Abdil Izz al Hanafi :
“ Barang siapa yang menganggap dirinya dengan nabi Muhammad saw
sebagaimana nabi Khidir as, dengan nabi Musa as, atau membolehkan orang
lain mengerjakan seperti itu( artinya membolehkan orang lain untuk
mbalelo dari ajaran Islam ) maka hendaklah dia memperbaharuhi
keislamannya , dan mengucapkan syahadat sekali lagi dengan penuh
kesungguhan. Karena dengan perbuatannya itu , dia telah keluar dari
Islam …..dia bukannya wali Allah , tetapi sebenarnya dia adalah wali
syetan. Inilah yang membedakan antara orang- orang zindiq dengan
orang-orang yang istiqomah di dalam ajaran Islam, maka perhatikan
baik-baik “

(4 ) Yang terakhir :
Nabi Khidir as, menurut pendapat yang
benar , telah mati sebagaimana manusia lainnya akan mati. Dalilnya
sebagaimana firman Allah di dalam QS Al Anbiya ‘ : 34-35 , :

“ Dan Kami ( Allah ) tidak menjadikan seorang manusia-pun sebelum
kamu ( wahai Muhammad) abadi, maka apabila engkau mati, apakah mereka
akan abadi ??. Setiap jiwa akan merasakan kematian. Dan Kami akan
menimpakan kepada kamu sekalian kejelekan dan kebaikan sebagai ujian
bagi kamu. Dan kepada Kami-lah kamu sekalian akan dikembalikan . “


Sumber : al-ukhuwah.com


Ensiklopedia Islam : Ilmu Laduni


Pengetahuan yang diperoleh seseorang yang saleh dari Allah SWT melalui
ilham dan tanpa dipelajari lebih dahulu melalui suatu jenjang
pendidikan tertentu. Oleh sebab itu, ilmu tersebut bukan hasil dari
proses pemikiran, melainkan sepenuhnya tergantung atas kehendak dan
karunia Allah SWT.

Di dalam tasawuf dibedakan tiga jenis alat untuk komunikasi rohaniah,
yakni kalbu (hati nurani) untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, roh untuk
mencintai-Nya dan bagian yang paling dalam yakni sirr (rahasia) untuk
musyahadah (menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT
secara yakin sehingga tidak terjajah lagi oleh nafsu amarah)
kepada-Nya.

Meski dianggap memiliki hubungan misterius dengan jantung secara
jasmani, kalbu bukanlah daging atau darah, melainkan suatu benda halus
yang mempunyai potensi untuk mengetahui esensi segala sesuatu.
Lapisan dalam dari kalbu disebut roh; sedangkan bagian terdalam
dinamakan sirr, kesemuanya itu secara umum disebut hati. Apabila ketiga
organ tersebut telah disucikan sesuci-sucinya dan telah dikosongkan
dari segala hal yang buruk lalu diisi dengan dzikir yang mendalam, maka
hati itu akan dapat mengetahui Tuhan.

Tuhan akan melimpahkan nur cahaya keilahian-Nya kepada hati yang suci
ini. Hati seperti itu diumpamakan oleh kaum sufi dengan sebuah cermin.
Apabila cermin tadi telah dibersihkan dari debu dan noda-noda yang
mengotorinya, niscaya ia akan mengkilat, bersih dan bening. Pada saat
itu cermin tersebut akan dapat memantulkan gambar apa saya yang ada
dihadapannya.

Demikian juga hati manusia. Apabila ia telah bersih, ia akan dapat
memantulkan segala sesuatu yang datang dari Tuhan. Pengetahuan seperti
itu disebut makrifat musyahadah atau ilmu laduni. Semakin tinggi
makrifat seseorang semakin banyak pula ia mengetahui rahasi-rahasia
Tuhan dan ia pun semakin dekat dengan Tuhan. Meskipun demikian,
memperoleh makrifat atau ilmu laduni yang penuh dengan rahasia-rahasia
ketuhanan tidaklah mungkin karena manusia serba terbatas, sedangkan
ilmu Allah SWT tanpa batas, seperti dikatakan oleh Al-Junaid, seorang
sufi modern, "Cangkir teh tidak akan dapat menampung segala air yang
ada di samudera."

Keberadaan dan status ilmu laduni bukan tanpa alasan. Para sufi merujuk
keberadaan ilmu ini pada Alquran (QS Al Kahfi [18]:60-82) yang
memaparkan beberapa episode tentang kisah Nabi Musa AS dan Khidir AS.
Kisah tersebut dijadikan oleh para sufi sebagai alasan keberadaan dan
status ilmu laduni. Mereka memandang Khidir AS sebagai orang yang
mempunyai ilmu laduni dan Musa AS sebagai orang yang mempunya
pengetahuan biasa dan ilmu lahir. Ilmu tersebut dinamakan ilmu laduni
karena di dalam surah al-Kahfi ayat 65 disebutkan: "wa'allamnahu min
ladunna 'ilman.." (..dan yang telah Kami ajarkan kepadanya (Khidir AS)
ilmu dari sisi Kami). Dengan demikian ilmu yang diterima langsung oleh
hati manusia melalui ilham, iluminasi (penerangan) atau inspirasi dari
sisi Tuhan disebut ilmu laduni. ( yus/RioL)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
 
Megenai Ilmu Laduni
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» 10 Ilmu Beladiri Utama di Dunia
» Cara cepat identifikasi ukuran helmet yg tepat

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ISLAM & IPTEK :: KATAGORI UTAMA :: Forum Diskusi-
Navigasi: