ISLAM & IPTEK

Baku Beking Pande Dalam Kajian Islam & Iptek
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Forum JatonForum Jaton  Dunia Mualaf VidioDunia Mualaf Vidio  KristologiKristologi  Mesjid KitaMesjid Kita  Sain & Qur'anSain & Qur'an  Alam SemestaAlam Semesta  Jalan LurusJalan Lurus  Belajar Qur'anBelajar Qur'an  Mengaji ( Iqra' )Mengaji ( Iqra' )  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  

Share | 
 

 IlmuLaduni, Antara Hakikat dan Khurafat

Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting : 271
Join date : 31.01.08

PostSubyek: IlmuLaduni, Antara Hakikat dan Khurafat   Tue May 20, 2008 11:41 pm

IlmuLaduni, Antara Hakikat dan Khurafat

Manusia
dilahirkan di bumi ini dalam keadaan bodoh, tidak mengerti apa-apa. Lalu
Allah mengajarkan kepadanya berbagai macam nama dan pengetahuan agar ia
bersyukur dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan penuh kesadaran dan
pengertian. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu
dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur."

(An-Nahl: 78)

Pada hakikatnya, semua ilmu makhluk adalah "Ilmu
Laduni" artinya ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Para malaikat-Nya pun berkata:

"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami."

(Al-Baqarah: 32)

Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua
bagian. Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy). Kedua,
ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).

Bagian pertama (didapat tanpa belajar) terbagi menjadi dua
macam:

1. Ilmu Syar'iat, yaitu ilmu tentang perintah dan
larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul
melalui jalan wahyu (wahyu tasyri'), baik yang langsung dari Allah maupun
yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang
diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang
diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidlir . Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman tentang Khidhir:

"Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari
sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi
Kami."
(Al-Kahfi: 65)
Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata
kepada Nabi Musa alaihissalam:

"Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari
ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak
mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang
Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga."


Ilmu syari'at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib
dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai
datang ajal kematiannya.

2. Ilmu Ma'rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang
sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya
tabir ghaib) atau ru'ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada
hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang
dimaksud dan dikenal dengan julukan "ilmu laduni" di kalangan
ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala
menyalahi ilmu syari'at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur'an
maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang,
menambah atau mengurangi.

Bagian
Kedua


Adapun
bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya
melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis,
mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya.

Dari ketiga ilmu ini (syari'at, ma'rifat dan kasb)
yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu
syari'at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb
tidak dianggap apabila menyalahi syari'at. Inilah hakikat pengertian ilmu
laduni di dalam Islam.

Khurafat
Shufi

Istilah
"ilmu laduni" secara khusus tadi telah terkontaminasi
(tercemari) oleh virus khurafat shufiyyah. Sekelompok shufi mengatakan
bahwa:

  1. "Ilmu laduni" atau kasyf adalah ilmu yang khusus
    diberikan oleh Allah kepada para wali shufi. Kelompok selain mereka,
    lebih-lebih ahli hadits(sunnah), tidak bisa mendapatkannya.
  2. "Ilmu laduni" atau ilmu hakikat lebih utama daripada ilmu
    wahyu (syari'at). Mereka mendasarkan hal itu kepada kisah Nabi Khidlir
    alaihissalam dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa alaihissalam adalah
    ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidhir alaihissalam adalah ilmu kasyf
    (hakikat). Sampai-sampai Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan:
    "Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab,
    maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi
    seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di
    waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah ilmu
    Rabbany."
  3. Ilmu syari'at (Al-Qur'an dan As-Sunnah) itu merupakan hijab
    (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah
    Subhanahu wa Ta'ala.
  4. Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, tidak perlu lagi kepada ilmu
    wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan metode kasyf,
    langsung didikte dan diajari langsung oleh Allah, yang wajib diyakini
    kebenarannya. Seperti Abd. Karim Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insanul
    Kamil fi Ma'rifatil Awakhir wal Awail
    . Dan Ibnu Arabi (638 H)
    menulis kitab Al-Futuhatul Makkiyyah.
  5. Untuk menafsiri ayat atau untuk mengatakan derajat hadits tidak
    perlu melalui metode isnad (riwayat), namun cukup dengan kasyf
    sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka
    "Hatiku memberitahu aku dari Tuhanku." Atau
    "Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, langsung
    tanpa perantara apapun."



Sehingga akibatnya banyak hadits palsu menurut ahli
hadits, dishahihkan oleh ahli kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya.
Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah
bertemu dengan ahli kasyf (tasawwuf).

Bantahan Singkat Terhadap Kesesatan di atas

  1. Kasyf atau ilham tidak hanya milik ahli tasawwuf. Setiap orang
    mukmin yang shalih berpotensi untuk dimulyakan oleh Allah dengan ilham.
    Abu Bakar radhiallahu anhu diilhami oleh Allah bahwa anak yang sedang
    dikandung oleh isterinya (sebelum beliau wafat) adalah wanita. Dan
    ternyata ilham beliau (menurut sebuah riwayat berdasarkan mimpi) menjadi
    kenyataan. Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa ilham atau ilmu Ilahi itu
    termasuk sebagian balasan amal shalih yang diberikan Allah di dunia ini.
    Jadi tidak ada dalil pengkhususan dengan kelompok tertentu, bahkan
    dalilnya bersifat umum, seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasalam:
    "Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah
    mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui."
    (Al-Iraqy
    berkata: HR. Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah dari Anas radhiallahu
    anhu, hadits dhaif).
  2. Yang benar menurut Ahlusunnah wal Jama'ah adalah Nabi Khidhir
    alaihissalam memiliki syari'at tersendiri sebagaimana Nabi Musa
    alaihissalam. Bahkan Ahlussunnah sepakat kalau Nabi Musa alaihissalam
    lebih utama daripada Nabi Khidhir alaihissalam karena Nabi Musa
    alaihissalam termasuk Ulul 'Azmi (lima Nabi yang memiliki
    keteguhan hati dan kesabaran yang tinggi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim,
    Musa, Isa dan Muhammad).

    Adapun pernyataan Abu Yazid, maka itu adalah suatu kesalahan yang
    nyata karena Nabi shallallahu 'alaihi wasalam hanya mewariskan
    ilmu syari'at (ilmu wahyu), Al-Qur'an dan As-Sunnah. Nabi
    mengatakan bahwa para ulama yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah
    itulah pewarisnya, sedangkan anggapan ada orang selain Nabi
    shallallahu 'alaihi wasalam yang mengambil ilmu langsung dari Allah
    kapan saja ia suka, maka ini adalah khurafat sufiyyah.
  3. Anggapan bahwa ilmu syari'at itu hijab adalah sebuah kekufuran,
    sebuah tipu daya syetan untuk merusak Islam. Karena itu, tasawwuf
    adalah gudangnya kegelapan dan kesesatan. Sungguh sebuah sukses besar
    bagi iblis dalam memalingkan mereka dari cahaya Islam.
  4. Anggapan bahwa dengan "ilmu laduni" sudah cukup adalah
    kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh
    Abdul Qodir Al-Jailani mengatakan: "Setiap hakikat yang tidak
    disaksikan (disahkan) oleh syari'at adalah zindiq (sesat)."
  5. Inilah penyebab lain bagi kesesatan tasawwuf. Banyak sekali
    kesyirikan dan kebid'ahan dalam tasawwuf yang didasarkan kepada
    hadits-hadits palsu. Dan ini pula yang menyebabkan orang-orang sufi
    dengan mudah dapat mendatangkan dalil dalam setiap masalah karena
    mereka menggunakan metode tafsir bathin dan metode kasyf dalam
    menilai hadits, dua metode bid'ah yang menyesatkan.



Tiada kebenaran kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda:

"Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu
hanya dengan belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh
(belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh
Allah, maka ia akan difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini."

(HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, Al-Bazzar dan Abu Nu'aim, hadits hasan).
(Abu Hamzah As-Sanuwi).

Maraji':

  1. Al-Fathur Rabbaniy, Abdul Qadir Al-Jailani (hal. 159, 143, 232).
  2. Al-Fatawa Al-Haditsiyah, Al-Haitamiy (hal. 128, 285, 311).
  3. Ihya' Ulumuddin, Al-Ghazali (jilid 3/22-23) dan (jilid 1/71).
  4. At-Tasawwuf, Muhammad Fihr Shaqfah (hal. 26, 125, 186, 227).
  5. Fathul Bariy, Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (I/141, 167).
  6. Fiqhut Tasawwuf, Ibnu Taimiah (218).
  7. Mawaqif Ahlusunnah, Utsman Ali Hasan (60, 76).
  8. Al-Hawi, Suyuthiy (2/197).
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
 
IlmuLaduni, Antara Hakikat dan Khurafat
Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» ER-6n ---------------- atau ----------------ER-6F ????????
» perbedaan wanita dan cewek
» Minta pendapatnya Bro antara BT 003 & BT 090 -- Repost ??
» antara pirelli dan bt90
» pengaruh performa antara knalpot non DB killer dan DB killer

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ISLAM & IPTEK :: KATAGORI UTAMA :: Forum Diskusi-
Navigasi: