ISLAM & IPTEK

Baku Beking Pande Dalam Kajian Islam & Iptek
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Forum JatonForum Jaton  Dunia Mualaf VidioDunia Mualaf Vidio  KristologiKristologi  Mesjid KitaMesjid Kita  Sain & Qur'anSain & Qur'an  Alam SemestaAlam Semesta  Jalan LurusJalan Lurus  Belajar Qur'anBelajar Qur'an  Mengaji ( Iqra' )Mengaji ( Iqra' )  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  
Share | 
 

 kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting: 271
Join date: 31.01.08

PostSubyek: kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??   Sun May 04, 2008 7:24 pm

kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??

Tahlilan yasinan sendiri merupakan amalan khas warga islam tradisionalis (dalam hal ini kebanyakan diwakili warga nahdhyin). Amalan ini sering dicap bid’ah oleh golongan islam pembaharu yang secara mayoritas diwakili oleh Muhammadiyah, Persis dan Salafi. Itulah mengapa karena amalan yang tertuduh bid’ah tersebut, terkadang sebagian saudara kita dari kelompok salafi sering mengecap bahwa NU adalah ahli bid’ah.

Masalah itulah yang akan kita diskusikan dalam thread ini, berkaitan dengan judul thread apakah benar NU tidak salafi alias tidak mengikuti salafussholeh. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada beberapa point yang harus kita perhatikan, yaitu :
1. Apakah benar bahwa amalan-amalan khas NU seperti tahlilan/ yasinan adalah merupakan perbuatan bid’ah?

2. Apakah suatu amalan yang tertuduh bid’ah yang timbul karena khilafiyah akan menyebabkan pelakunya dikategorikan sebagai ahli bid’ah?

3. Seandainya telah dibuktikan berdasarkan pembahasan yang rajih bahwa amalan tahlilan dan yasinan adalah perbuatan bid’ah, apakah pelakunya tersebut tetap dihukumi sebagai ahli bid’ah, hanya karena perbedaan qawaidul fiqhiyyah yang berbeda yang dianut oleh NU, sehingga menghasilkan keputusan yang berbeda?

4. Imam Asy Syathibi dalam kitabnya Al I’tishom menjelaskan bahwa asal mula ahli bid’ah terjerumus ke dalam bid’ah adalah diantaranya karena ketidakpahaman mereka terhadap kaidah ushul fiqh sebagai landasan ditetapkannya hukum syariat, atau karena melakukan takalluf (memaksakan diri) untuk mencari dalil-dalil sebagai pembenaran atas perbuatan bid’ahnya.
Penjelasan Imam Asy Syathibi tersebut yang akan kita diskusikan disini berkaitan dengan qowaidul fiqhiyyah yang dianut oleh NU, apakah qowaidul fiqhiyyah yang dianut oleh NU dalam hal tahlilan yasinan termasuk yang dikatakan oleh Imam Asy Syathibi di atas atau tidak.


Sebenarnya khilafiyah masalah tahlilan dan yasinan ini sudah usang sejak datangnya para islam pembaharu/modernis yang dipelopori KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Syaikh A. Hasan, Tengku Muhammad Hasby Ash Shiddiqie dari PERSIS. Dan perdebatan masalah ini sampai sekarang belum juga berakhir apalagi seiring makin menjamurnya harokah-harokah, hizbiyah baru yang muncul ke bumi Nusantara terutama salafi/wahabi.
Kalau kita perhatikan konflik salafi/wahabi vs non wahabi/NU sekarang ini tidak lain adalah sebenarnya merupakan rekaman ulang konflik Muhammadiyah vs NU yang dahulu pun sedemikian panasnya.

Pembahasan masalah tahlilan yasinan sebenarnya telah banyak berserakan dalam berbagai buku, kajian, diskusi, dan sekarang ini dengan media internet. Membahas masalah ini di forum ini sebenarnya hanya merupakan bentuk copy paste dari berbagai pembahasan yang sudah dilakukan. Di satu sisi itu merupakan kesia-siaan apabila kita tidak dapat mengambil manfaat dari pembahasan tersebut, di sisi lain hendaknya kita dapat menciptakan dan mengupdate pembahasan-pembahasan yang sudah ada, untuk mencari hasil finishing yang lebih baik. Itulah yang saya harapkan dalam forum ini.

Dalam masalah pembahasan-pembahasan yang sudah-sudah, seringkali saya dapati tidak adanya adab diskusi yang baik, bahkan penuh diliputi nuansa kebencian dan permusuhan kepada golongan yang berseberangan. Diskusi itu adalah suatu hal yang sangat bagus, dan semua itu adalah tradisi yang biasa dijalankan oleh para ulama sejak jaman dahulu. Menurut riwayat Imam Syafi’i biasa mengadakan forum munadharah dan mudzakarah dalam halaqahnya setiap harinya.

Tetapi yang tidak boleh kita lupakan, ada baiknya kita harus memperhatikan adab berdiskusi yang baik, agar jangan masuk berbantah-bantahan yang diharamkan.

Nabi saw bersabda:

“Tidaklah sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas petunjuk kecuali mereka akan diberi sifat jadal (berdebat). Lalu beliau membaca ayat, artinya: ‘Bahkan mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan’.” (Hasan, HR Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahili, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no: 5633)

Ibnu Rajab mengatakan: “Di antara sesuatu yang diingkari para Imam salafus shalih adalah perdebatan, berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Itu bukan jalannya para Imam agama ini.” (Fadl Ilm Salaf 57 dari Al-Intishar: 94)

Untuk itu buat teman-teman semuanya, pertama-tama saya menyeru diri saya sendiri dan kita sekalian, untuk berusaha semampu mungkin melatih diri kita dengan berdiskusi secara baik, sopan santun dan berakhlaqul karimah. Dalam pembahasan masalah tahlilan yasinan ini saya berharap agar kita bisa lebih beradab, jangan sampai timbul suasana panas penuh dengan kata-kata yang nggak enak didengar, seperti dalam thread-thread lain. Akan hilanglah indahnya suasana sejuk diskusi yang penuh rahmat dan berkah dari allah kalau kita tidak memperhatikan adab berdiskusi.

Allah memerintahkan berdebat berdiskusi dengan yang paling baik.

“Ajaklah kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau’idhah (nasihat) yang baik dan berdebatlah dengan yang paling baik.” (An-Nahl: 125).

Para ulama menerangkan bahwa perdebatan/diskusi yang paling baik bisa terwujud jika niat masing-masing dari dua belah pihak baik. Masalah yang diperdebatkan juga baik dan mungkin dicapai kebenarannya dengan diskusi. Masing-masing beradab dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu serta siap menerima yang haq jika kebenaran itu muncul dari hasil perdebatan/diskusi mereka. Juga bersikap adil serta menerima kembalinya orang yang kembali kepada kebenaran. (lihat rinciannya dalam Mauqif Ahlussunnah 2/587-611 dan Ar-Rad ‘Alal Mukhalif hal:56-62).

Perdebatan para shahabat dalam sebuah masalah adalah perdebatan musyawarah dan nasehat. Bisa jadi mereka berselisih dalam sebuah masalah ilmiah atau amaliah dengan tetap bersatu dan berukhuwwah. (Majmu’ Fatawa 24/172)

Dalam diskusi ini finishing yang diharapkan adalah kebenaran (semoga Allah memberikan kita petunjuk), kalaupun tidak dicapai kesepakatan dalam hasil akhirnya, kita berharap semoga kita tetap menjaga ukhuwah dan bisa menghargai pendapat yang berbeda. Untuk itu mari saya undang teman-teman semua untuk mendiskusikan masalah tahlilan yasinan serta amalan-amalan lainnya yang masih dalam perdebatan antara bid’ah dan tidaknya. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamiththoriq.

1. Pendapat yang mengatakan bid’ah tercela dan makruh :
Sebenarnya banyak di antara ulama tradisionalis indonesia yang membid’ahkan tahlilan, kenduri, yasinan. Dan uniknya sebagian diantaranya masa hidup para ulama tersebut adalah jauh sebelum kedatangan para ulama islam pembaharu seperti KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan Syaikh. A. Hasan (persis), diantaranya adalah :

• Syeikh Daud Al-Fatani rahimahullah, (1769-1847 M) menghukum makruh lagi bid’ah mengadakan kenduri dan menjemput orang untuk makan kenduri di rumah si Mati. Lihat kitab: “Bughyatul Tullab” (بغية الطلاب) hlm. 33-34)
• Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari rahimahullah (1710-1812 M). Seorang ulama Melayu bermazhab as-Syafie. Lihat dalam kitab “Sabilul Muhtadin” (سبيل المهتدين) jld. 2 hlm. 87. Beliau berkata: “Dan makruh lagi bid’ah bagi yang kematian (yang terkena musibah) membuat makanan yang diserukannya untuk orang-orang agar memakan dia dahulu daripada menguburnya dan kemudian daripadanya seperti umumnya adat kebiasaan masyarakat)
• Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari berfatwa:
“Dan demikian juga makruh lagi bid’ah bagi segala mereka yang diserunya memperkenankan seruannya, dan haram menyediakan makanan bagi yang menangis dengan meratap yang demikian itu menolong atas berbuat maksiat”.
• Syeikh Zainul Abidin Bin Muhammad al-Fatani. Seorang ulama bermazhab as-Syafie. Beliau berkata di dalam kitab “Kashfu al-Litham” jld. 1 hlm. 85. Beliau menjelaskan tentang perbuatan tahlilan/kenduri adalah makruh dan tercela oleh syariat.

• Uniknya juga kalau kita baca di buku Ahkamul Fuqaha PBNU disebutkan bahwa adalah makruh hukumnya bagi pihak ahli mayat yang terkena musibah untuk menyediakan makanan bagi para tamu yang berta’ziah para malam harinya, atau berturut-turut setelah itu, malam ketiga, ketujuh dan seterusnya.

Keputusan Muktamar NU ke 1 di Surabaya 13 rabi’uts tsaani 1345 H/21 okktober 1926, fatwa no 18 tentang keluarga mayit menyediakan makan kepada pentakziah

Tanya : bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

Jawab :
Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya makruh, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala sedekah itu.

Keterangan, dalam kitab I’anatut Thalibin :
“Makruh hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat ahmad dari jarir bin abdullah al bajali yang berkata :”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari ratapan (yang dilarang)”. (I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz)

Dalam kitab Al Fatawa Al Kubro disebutkan :
“Beliau ditanya semoga allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudia dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggal kubur saja, dan tentang yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untu para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yangdiedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.
Mereka melakukan semuua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setemoat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dania akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksankan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya”

Beliau menjawab semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bid’ah yang tercela tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertjuan untuk “meratapi” datau emuji secara berlebihan (rastsa’)......... " (Al Fatawa Al Kubro, Juz Tsani)

(AHKAMUL FUQAHA, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-1999 M), halaman 16-18), Penerbit Lajnah Wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
 

kenapa NU dianggap bukan Salafi oleh Salafiyyin ??

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» Base No Delay [Build di C++ Bukan dev C++]
» Pendeta kindemen dianiaya dan dibunuh oleh TNI
» Liberalisasi Islam Oleh Islam Liberal
» Vlad Dracula " Kisah Nyata Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib
» Penyebab Indonesia Dijajah Belanda Karena Sebuah Buku!!!

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ISLAM & IPTEK ::  :: -