ISLAM & IPTEK

Baku Beking Pande Dalam Kajian Islam & Iptek
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Forum JatonForum Jaton  Dunia Mualaf VidioDunia Mualaf Vidio  KristologiKristologi  Mesjid KitaMesjid Kita  Sain & Qur'anSain & Qur'an  Alam SemestaAlam Semesta  Jalan LurusJalan Lurus  Belajar Qur'anBelajar Qur'an  Mengaji ( Iqra' )Mengaji ( Iqra' )  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  
Share | 
 

 PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "Al QUR'AN"

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting: 271
Join date: 31.01.08

PostSubyek: PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "Al QUR'AN"   Fri Apr 04, 2008 8:05 pm

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "Al QUR'AN" - Bgn I

QUR-AN TIDAK MENUNJUKKAN URUT-URUTAN
DALAM PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI


Dalam dua paragraf daripada Qur-an yang baru saja kita
sebutkan, terdapat ayat mengenai penciptaan langit-langit
dan bumi (surat 7 ayat 54), dan di lain tempat disebutkan
penciptaan bumi dan langit-langit (surat 41 ayat 9 s/d 12),
nampak bahwa Qur-an tidak menunjukkan urut-urutan dalam
penciptaan langit-langit dan bumi.

Terdapat beberapa ayat yang menyebutkan penciptaan bumi
lebih dahulu seperti dalam surat 2 ayat 29, dan dalam surat
20 ayat 4. Akan tetapi terdapat lebih. banyak ayat-ayat di
mana langit-langit disebutkan sebelum bumi (surat 7 ayat 54,
surat 10 ayat 3, surat 11 ayat 7, surat 25 ayat 59, surat 32
ayat 4, surat 50 ayat 38, surat 57 ayat 4, surat 79 ayat 27,
dan surat 91 ayat 5 s.d. 10).

Jika kita tinggalkan surat 79, tak ada suatu paragraf dalam
Qur-an yang menunjukkan urutan penciptaan secara formal.
Yang terdapat hanya huruf "wa" yang artinya "dan" serta
fungsinya menghubungkan dua kalimat. Terdapat juga kata
"tsumma" yang sudah kita bicarakan di atas dan yang dapat
menunjukkan, sekedar sesuatu di samping sesuatu lainnya,
atau urutan.

Pada hemat saya, hanya terdapat satu paragraf dalam Quran,
di mana disebutkan urutan antara kejadian-kejadian
penciptaan secara jelas, yaitu ayat 27 s.d. ayat 33 surat 79

[Tulisan Arab]

Artinya: "Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya
ataukah langit? Allah telah membinanya Dia
meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya.
Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan
menjadikan siangnya terang benderang, dan bumi
sesudah itu dihamparkannya. Ia memancarkan
daripadanya mata airnya dan menumbuhkan
tumbuh-tumbuhannya, dan gunung-gunung
dipancangkannya dengan teguh Semua itu untuk
kesenanganmu dan untuk binatang-binatang
ternakmu."

Perincian nikmat-nikmat Dunia yang Allah berikan kepada
manusia, yang diterangkan dalam bahasa yang cocok bagi
petani atau orang-orang pengembara (nomad) di Jazirah
Arabia, didahului dengan ajakan untuk memikirkan tentang
penciptaan alam. Akan tetapi pembicaraan tentang tahap Tuhan
menggelar bumi dan menjadikannya cocok untuk tanaman,
dilakukan pada waktu pergantian antara siang dan malam telah
terlaksana. Terang bahwa di sini ada dua hal yang
dibicarakan: kelompok kejadian-kejadian samawi dan kelompok
kejadian-kejadian di bumi yang diterangkan dengan waktu.
Menyebutkan hal-hal tersebut mengandung arti bahwa bumi
harus sudah ada sebelum digelar dan bahwa bumi itu sudah ada
ketika Tuhan membentuk langit. Dapat kita simpulkan bahwa
evolusi langit dan bumi terjadi pada waktu yang sama, dengan
kait mengkait antara fenomena-fenomena. Oleh karena itu tak
perlu memberi arti khusus mengenai disebutkannya bumi
sebelum langit atau langit sebelum bumi dalam penciptaan
alam. Tempat kata-kata tidak menunjukkan urutan penciptaan,
jika memang tak ada penentuan dalam hal ini pada ayat-ayat
lain.

Proses fundamental daripada pembentukan kosmos dan
kesudahannya dengan penyusunan alam

Dalam dua ayat Qur-an disajikan suatu sintesa singkat
daripada fenomena-fenomena yang menyusun proses fundamental
tentang pembentukan kosmos.

Surat 21 ayat 30:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bakwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian
Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air,
Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka
mengapakah mereka tiada juga beriman?"

Dalam surat 41 ayat 11, kita dapatkan sebagai berikut:

[Tulisan Arab]

Artinya: "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit
dan dia (langit itu masih merupakan) asap, lalu
Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah
kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati
atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datan8
dengan suka hati."

Nanti kita akan membicarakan tentang asal kehidupan yang
dikatakan "air," di samping masalah-masalah biologi yang
terdapat dalam Qur-an. Untuk sementara kita dapat
menyimpulkan sebagai berikut:

a). Menetapkan adanya suatu kumpulan gas dengan
bagian-bagian kecil yang sangat halus. Dukhan = asap. Asap
itu terdiri dari stratum (lapisan) gas dengan bagian-bagian
kecil yang mungkin memasuki tahap keadaan keras atau cair,
dan dalam suhu rendah atau tinggi

b). Menyebutkan proses perpisahan (fatq) dari suatu kumpulan
pertama yang unik yang terdiri dari unsur-unsur yang
dipadukan (ratq). Kita tegaskan lagi, "fatq" dalam bahasa
Arab artinya memisahkan dan "ratq" artinya perpaduan atau
persatuan beberapa unsur untuk dijadikan suatu kumpulan yang
homogen.

Konsep kesatuan yang berpisah-pisah menjadi beberapa bagian
telah diterangkan dalam bagian-bagian lain dari Qur-an
dengan menyebutkan alam-alam ganda. Ayat pertama dari surat
pertama dalam Qur-an berbunyi: "Dengan nama Allah, Maha
Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan
sekalian alam."

Kata-kata alamin (alam-alam) terdapat berpuluh kali dalam
Qur-an. Langit-langit juga disebutkan sebagai ganda, bukan
saja dalam bentuk kata jamak; tetapi dengan angka simbolik
yaitu angka tujuh. Angka tujuh dipakai dalam Qur-an 24 kali
untuk maksud bermacam-macam. Sering kali angka tujuh itu
berarti "banyak" dan kita tidak tahu dengan pasti sebabnya
angka tersebut dipakai. Bagi orang-orang Yunani dan
orang-orang Rumawi, angka 7 juga mempunyai arti "banyak"
yang tidak ditentukan. Dalam Qur-an angka 7 dipakai 7 kali
untuk memberikan bilangan kepada langit, angka 7 dipakai
satu kali untuk menunjukkan langit-langit yang tidak
disebutkan. Angka 7 dipakai satu kali untuk menunjukkan 7
jalan di langit.

Bacalah ayat-ayat di bawah ini. Surat 2 ayat 29.

[Tulisan Arab]


Artinya: "Dialah .Allah, yang menyaksikan segala yang
ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikanNya tujuh
langit Dan Dia maha mengetahui segala sesuatu."

Surat 23 ayat 17.
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di
atas kamu tujuh buah jalan, dan Kami sekali-
kali tidaklah lengah terhadap ciptaan."

Surat 67 ayat 3
[Tulisan Arab]

Artinya: "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-
lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang. Karena itu lihatlah berulang-
ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak
seimbang?"

Surat 71 ayat 15-16
[Tulisan Arab]

Artinya: "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
telah menciptakan tujuh langit bertingkat-
tingkat. Dan Allah menciptakan padanya bulan
sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai
pelita?"

Surat 78 ayat 12.
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah langit
yang kokoh, dan Kami jadikan pelita yang amat
terang (matahari)."10

Untuk ayat-ayat tersebut para ahli tafsir Qur-an sepakat
bahwa angka 7 menunjukkan "banyak" dengan tak ada perinci.11

Langit-langit adalah banyak, dan bumi juga banyak. Pembaca
modern yang membaca Qur-an akan heran bahwa ia menemukan
dalam suatu teks dan abad VI suatu benda yang
mengatakan bahwa bumi-bumi seperti bumi kita terdapat dalam
kosmos, padahal manusia pada zaman kita sekarang ini, sampai
hari ini belum dapat membuktikan.

Sesungguhnya surat 65 ayat 12 berbunyi:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi, berlaku perintah {Allah) di
antaranya, (Allah menciptakan yang demikian)
supaya kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah,
ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu."

Karena angka tujuh menunjukkan "ganda" yang tak ditentukan,
kita dapat mengambil konklusi bahwa teks Qur-an menunjukkan
dengan jelas bahwa tidak hanya terdapat suatu bumi, bumi
manusia, tetapi terdapat bumi-bumi lain yang serupa dalam
kosmos ini.

Suatu hal lain yang mentakjubkan pembaca Qur-an pada abad 20
ini adalah ayat-ayat yang menyebutkan tiga macam benda-benda
yang diciptakan, yaitu:

Benda-benda yang terdapat di langit
Benda-benda yang terdapat di atas bumi.
Benda-benda yang terdapat di antara langit-langit dan bumi.

Bacalah ayat 6 surat 20:
[Tulisan Arab]

Artinya: "KepunyaanNyalah semua yang ada di langit,
semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya
dan semuanya yang di bawah tanah."

Surat 25 ayat 59 :
[Tulisan Arab]

Artinya: "Yang menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada di antara keduanya dalam enam masa."

Surat 32 ayat 4 .
[Tulisan Arab]

Artinya: "Allahlah yang menciptakan langit dan bumi
dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam
masa, kemudian Ia bersemayam di atas 'arsy."

Surat 50 ayat 38.
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan sesunggahnya telah Kami ciptaan langit
dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam
enam masa dan Kami sedikitpun tidak ditimpa
keletihan."12

Kata-kata "yang ada di antara langit dan bumi," terdapat
juga dalam surat 21 ayat 16, surat 44 ayat 7 dan 38, surat
78 ayat 37, surat 15 ayat 85, surat 46 ayat 3 dan surat 43
ayat 85.

Penciptaan di luar langit dan bumi yang berkali-kali
tersebut dalam Qur-an, secara apnori kurang dapat
digambarkan. Untuk memahami ayat-ayat tersebut, kita perlu
kembali kepada penemuan manusia yang paling modern tentang
adanya bahan-kosmik ekstra galaktik, dan untuk itu kita
harus mengarah dan yang paling sederhana kepada yang paling
kompleks dan mengikuti hasil-hasil Sains masakini mengenai
terbentuknya kosmos. Hal ini akan kita bicarakan dalam
paragraf yang akan datang.

Tetapi sebelum memasuki pemikiran-pemikiran yang bersifat
ilmiah murni, saya rasa baik untuk meringkaskan dasar-dasar
pokok yang dipakai oleh Qur-an untuk memberi penerangan
kepada kita tentang penciptaan kosmos. Menurut hal-hal yang
telah kita bicarakan, dasar-dasar tersebut adalah sebagai
berikut:

1. Adanya enam penode untuk penciptaan pada umumnya
2. Adanya jaringan yang berkaitan antara tahap-tahap
penciptaan langit-langit dan tahap-tahap penciptaan bumi.
3. Penciptaan kosmos mula-mula dari kumpulan yang unik yang
merupakan kesatuan dan kemudian terpecah.
4. Terdapatnya banyak langit dan banyak bumi.
5. Terdapatnya benda-benda ciptaan Tuhan antara
langit-langit dan bumi.



BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
Admin
Admin


Jumlah posting: 271
Join date: 31.01.08

PostSubyek: Re: PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "Al QUR'AN"   Sun May 25, 2008 9:01 pm

...Sambungan dari Bgn I

BERHADAPAN DENGAN AYAT-AYAT QUR-AN TENTANG PENCIPTAAN ALAM

Marilah kita selidiki lima dasar yang menjadi landasan
Qur-an untuk menceritakan tentang penciptaan alam.

I. Enam masa daripada penciptaan langit-langit dan bumi,
menurut Qur-an, meliputi terbentuknya benda-benda samawi,
terbentuknya bumi dan perkembangan bumi sehingga dapat
dihuni manusia. Untuk hal yang terakhir ini, Qur-an
mengatakan, segala sesuatu terjadi dalam empat waktu. Apakah
empat waktu itu merupakan zaman-zaman geologi dalam Sains
modern, karena menurut Sains modern, manusia timbul pada
zaman geologi ke empat? Ini hanya suatu hipotesa; tetapi tak
ada jawaban terhadap soal ini. Tetapi perlu kita perhatikan
bahwa untuk pembentukan benda-benda samawi dan bumi sebagai
yang diterangkan dalam ayat 9 sampai dengan 12, surat 4,
diperlukan dua tahap. Sains memberi tahu kepada kita bahwa
jika kita mengambil contoh (satu-satunya contoh yang sudah
mungkin diketahui) daripada pembentukan matahari dan
embel-embelnya, yakni bumi, prosesnya melalui padatan
(kondensasi) nebula (kelompok gas) dan perpecahannya. Ini
adalah yang dikatakan oleh Qur-an secara jelas dengan proses
yang mula-mula berupa asap samawi, kemudian menjadi kumpulan
gas, kemudian berpecah. Di sini kita dapatkan persatuan yang
sempurna antara penjelasan Qur-an dan penjelasan Sains.

II. Sains telah menunjukkan simultanitas antara dua
kejadian pembentukan bintang (seperti matahari) dan
pembentukan satelit-satelitnya, atau salah satu satelitnya
(seperti bumi). Bukankah simultanitas ini telah nampak juga
dalam teks Qur-an seperti yang telah kita ketahui?

III. Nampak persesuaian antara wujudnya asap pada permulaan
terciptanya kosmos, yaitu asap yang dipakai oleh Qur-an
untuk menunjukkan gas yang banyak dalam materi yang menjadi
asal kosmos dan konsep Sains modern tentang nebula primitive
(kelompok gas asli).

IV. Kegandaan langit-langit yang diterangkan oleh Qur-an
dengan simbul angka 7 yang sudah kita fahami artinya telah
dibenarkan oleh Sains modern dalam pernyataan ahli-ahli
astrofisika tentang sistem galaksi dan jumlahnya yang amat
besar. Di lain fihak wujudnya bumi-bumi yang mirip dengan
bumi kita dari beberapa aspek adalah suatu hal yang dapat
kita fahami daripada teks Qur-an, tetapi sampai sekarang
Sains belum dapat membuktikannya. Bagaimanapun keadaannya,
para spesialis menganggap bahwa adanya bumi semacam itu
sangat mungkin.

V. Adanya suatu penciptaan pertengahan antara
langit-langit dan bumi seperti yang dijelaskan Qur-an dapat
dimengerti dengan diketemukannya jembatan-jembatan materi
yang terdapat di luar sistim astronomik teratur.

Jika segala soal yang ditimbulkan oleh ayat-ayat Qur-an
sampai sekarang belum dapat diterangkan secara menyeluruh
oleh ilmu pengetahuan, sedikitnya tak terdapat pertentangan
antara ayat-ayat Qur-an dan pengetahuan modern tentang
penciptaan kosmos.

Kita perlu menggaris bawahi keunggulan Qur-an setelah kita
mengetahui bahwa teks Perjanjian Lama yang kita miliki telah
memberi perincian-perincian tentang penciptaan kosmos tetapi
perincian-perincian itu tak dapat diterima oleh ilmu
pengetahuan. Kita tidak heran karena kita tahu bahwa teks
Sakerdotal (para pendeta) dari Bibel tentang penciptaan alam
itu ditulis pada waktu bangsa Israil dibuang ke Babylon.
Para pendeta Yahudi itu mempunyai maksud-maksud yuridis yang
sudah kita terangkan di atas dan mereka itu telah menyusun
riwayat-riwayat yang sesuai dengan pandangan keagamaan
mereka.

Adanya perbedaan yang menyolok antara riwayat Bibel dan
riwayat Qur-an tentang penciptaan kosmos adalah sangat
menarik perhatian karena semenjak permulaan timbulnya agama
Islam, Nabi Muhammad selalu dituduh telah menjiplak isi
Bibel. Dalam hal penciptaan kosmos ini, tuduhan semacam itu
sama sekali tidak mempunyai landasan.

Bagaimana 14 abad yang lalu seseorang dapat mengkoreksi
riwayat yang sudah tersiar dengan menghilangkan
kekeliruan-kekeliruan ilmiah dan mengemukakan apa yang ia
bawakan sendiri yaitu hal-hal yang telah dibenarkan oleh
Sains pada abad kita ini. Hipotesa semacam itu tak dapat
dipertahankan. Qur-an membicarakan penjelasan tentang
penciptaan kosmos yang sangat berbeda dengan penjelasan
Bibel.



BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
Admin
Admin


Jumlah posting: 271
Join date: 31.01.08

PostSubyek: Re: PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "Al QUR'AN"   Sun May 25, 2008 9:01 pm

...Sambungan dari Bgn II

ASTRONOMI DALAM QUR-AN

Qur-an itu penuh dengan pemikiran-pemikiran tentang langit.
Dalam fasal yang lalu yang membicarakan penciptaan alam,
kita telah melihat bahwa adanya langit-langit dan bumi-bumi
telah disebutkan; begitu juga tentang adanya ciptaan tengah
(antara langit dan bumi) yang telah ditunjukkan kebenarannya
oleh Sains modern. Ayat-ayat tentang penciptaan alam, telah
menunjukkan secara tidak langsung ide umum tentang isi
langit-langit, artinya tentang segala sesuatu yang berada di
luar bumi kita.

Di samping ayat-ayat yang khusus menggambarkan penciptaan,
ada lebih dari 40 ayat Qur-an yang memberikan kepada
astronomi (ilmu bintang) keterangan-keterangan tambahan,
sebagian dari ayat-ayat tersebut hanya merupakan renungan
tentang keagungan zat Pencipta dan Pengatur segala sistem
bintang-bintang dan planet-planet yang kita ketahui, dan
yang dipelihara dalam keseimbangan dengan peraturan yang
diketemukan oleh Newton, yaitu peraturan daya tarik antara
benda-benda (law of gravitation).

Ayat-ayat pertama yang kita muat di sini tidak akan
memberikan bahan untuk pemikiran ilmiah; maksud ayat-ayat
tersebut hanya untuk menarik perhatian kekuasaan Tuhan.
Walaupun begitu kita harus menyebutkannya, agar kita
memperoleh idea real tentang caranya teks Qur-an menguraikan
organisasi kosmos, 14 abad yang lalu.

Yang saya katakan ini merupakan suatu fakta baru dalam wahyu
Ilahi. Empat Injil dalam Perjanjian Baru dan juga Perjanjian
Lama tidak membicarakan pengaturan alam. (Kita sudah
membicarakan ketidak benaran riwayat Bibel tentang
penciptaan alam secara umum). Tetapi Qur-an membicarakan
soal penciptaan alam dengan panjang. Apa yang dimuat oleh
Qur-an adalah penting, tetapi apa yang tidak dimuat juga
penting. Qur-an tidak memuat teori yang pada waktu Qur-an
diwahyukan merupakan teori yang terhormat tentang pengaturan
alam samawi akan tetapi yang oleh Sains telah dibuktikan
kesalahannya; nanti kita akan memberikan contoh hal ini.
Untuk sementara, aspek negatif ini perlu digaris bawahi.14

A. PEMIKIRAN UMUM TENTANG LANGIT

Surat 50 ayat 6, mengenai manusia secara umum:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Apakah mereka tidak melihat akan langit yang
ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya
dan menghiasinva dan langit-langit itu tidak
mempunyai retak-retak sedikitpun."

Surat 31 ayat 10:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dia menciptakan langit tanpa tiang yang
kamu melihatnya."

Surat 13 ayat 2:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang
(sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia
bersemayan di atas Arsy dan menundukkan matahari
dan bulan."

Dua ayat yang terakhir ini merupakan sangkalan terhadap
kepercayaan bahwa langit itu dapat bertahan karena ada
tiang-tiang yang menegakkannya supaya jangan jatuh di atas
bumi.

Surat 55 ayat 7:
[Tulisan Arab]


Artinya: "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia
telah meletakkan neraca (keadilan)."

Surat 22 ayat 65:
[Tulisan Arab]


Artinya: "Dan Dia menahan langit jatuh ke bumi
melainkan dengan izinNya."

Orang mengetahui bahwa menjauhkan benda-benda samawi dalam
jarak yang sangat besar dan sesuai dengan pentingnya
benda-benda tersebut, merupakan dasar daripada
keseimbangannya. Lebih jauh benda itu, lebih lemahlah daya
yang menarik satu benda kepada benda lainnya. Lebih dekat
benda itu, lebih kuat daya tarik di antara mereka; ini
adalah kasus bulan yang dekat kepada bumi. Dan bulan itu,
dengan daya tariknya mempengaruhi posisi air dalam laut atau
fenomena pasang surut. Jika dua benda samawi ini terlalu
berdekatan satu dengan lainnya, maka bentrokan tak dapat
dielakkan, maka sikap tunduk kepada suatu perintah merupakan
syarat mutlak untuk tidak terjadinya kekacauan.

Inilah sebabnya menyerahnya langit-langit kepada perintah
Allah seringkali disebutkan.

Surat 23 ayat 86:
[Tulisan Arab]


Artinya: "Katakanlah Hai Muhammad: Siapa yang empunya
langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang
besar?"

Kita telah mengetahui bahwa langit tujuh artinya
langit-langit yang banyak sekali dan tak dapat dibatasi
dengan angka. Surat 45 ayat 13:

Artinya: "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai satu rahmat)
daripadaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir."

Surat 55 ayat 5:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan matahan dan langit {beredar)
menurut perhitungan."

Surat 6 ayat 96:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam
untuk beristirahat dan menjadikan matahari dan
bulan untuk perhitungan."

Surat 14 ayat 33:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari
dan bulan yang terus menerus beredar (dalam
orbitnya) dan telah menundukan bagimu malam dan
siang."

Di sini, sesuatu ayat menyempurnakan ayat yang lain.
Perhitungan-perhitungan yang disebutkan di sini
mengakibatkan peredaran yang teratur dari benda-benda
samawi. Hal ini dijelaskan dengan kata "daib" yang berarti
bekerja dengan gairah dan mantap. Di sini berarti bahwa
matahari dan bulan itu beredar dengan hati-hati, terus
menerus. Tidak menyimpang dari peraturan yang diberikan:

Surat 36 ayat 39:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-
manzilah sehingga (setelah dia sampai ke manzilah
yang terakhir), kembalilah dia sebagai bentuk
tandan yang tua."

Ini adalah isyarat kepada melengkungnya papah kurma, yang
mengambil bentuk bulan tanggal muda selagi papah itu
mengering. Komentar ini akan diteruskan kemudian.

Surat 16 ayat 12:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari
dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu
ditundukkan (untukmu) dengan perintahNya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memahaminya."

Qur-an menyebutkan adanya pengaturan samawi yang sempurna
ini dengan menekankan faedahnya untuk mempermudah gerak
manusia di bumi dan di laut, begitu juga untuk mempermudah
perhitungan waktu. Hal ini dapat dimengerti dengan mudah
jika orang mengingat bahwa Qur-an pada mulanya merupakan
petunjuk bagi sekelompok manusia yang hanya dapat memahami
bahasa yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Itulah
sebabnya kita dapatkan pemikiran-pemikiran sebagai berikut:

Surat 6 ayat 97:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang
bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam
kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami
telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami)
kepada orang-orang yang mengetahui."

Surat 16 ayat 16:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan).
Dan dengan bintang-bintang itu mereka mendapat
petunjuk (untuk lalu lintas)."

Surat 10 ayat 15:
[Tulisan Arab]

Artinya: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan
bulan bercahaya dan ditetapkanNya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan
bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun
dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan
yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia
menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada
orang-orang yang mengetahui."

Di sini ada catatan penting. Bibel memberi sifat kepada
matahari dan bulan dengan kata "yang memberi
cahaya"'matahari dikatakan besar, bumi dikatakan kecil.
Qur-an membedakan antara matahari dan bulan dengan
perbedaan-perbedaan yang lain. Memang perbedaan itu hanya
perbedaan lafal (verbal). Tetapi bagaimana berbicara kepada
orang-orang pada waktu itu, dengan tidak menyesatkan, dengan
mengatakan bahwa matahari dan bulan bukan planet yang
mempunyai sifat-sifat yang identik.



BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
 

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "Al QUR'AN"

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» Kejadian di alam semesta
» Solved: [Help] IPB Profile Style Versi Punbb
» menekan dorongan ke alam bawah sadar
» SEJARAH ALQURAN VERSI DEPAG DAN SAUDI ARABIA
» Kumpulan E-Book Harun Yahya ..

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ISLAM & IPTEK ::  :: -