ISLAM & IPTEK

Baku Beking Pande Dalam Kajian Islam & Iptek
 
IndeksIndeks  PortalPortal  FAQFAQ  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  AnggotaAnggota  GroupGroup  Login  Forum JatonForum Jaton  Dunia Mualaf VidioDunia Mualaf Vidio  KristologiKristologi  Mesjid KitaMesjid Kita  Sain & Qur'anSain & Qur'an  Alam SemestaAlam Semesta  Jalan LurusJalan Lurus  Belajar Qur'anBelajar Qur'an  Mengaji ( Iqra' )Mengaji ( Iqra' )  Jaton SilaturachmiJaton Silaturachmi  
Share | 
 

 PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "INJIL"

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Admin
Admin


Jumlah posting: 271
Join date: 30.01.08

PostSubyek: PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "INJIL"   Fri Apr 04, 2008 2:20 pm

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

Ref: BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta


1. Menurut Injil


Sebagai yang telah dikatakan oleh R. P. de Vaux, Kitab
Kejadian bermula dengan dua riwayat mengenai penciptaan
alam. Oleh karena itu kita perlu menyelidiki kedua
riwayat itu secara terpisah untuk mengetahui
kesesuaiannya dengan penyeiidikan-penyelidikan ilmiah.

RIWAYAT PERTAMA

Riwayat pertama memenuhi fasal I dan ayat-ayat pertama
dari fasal II. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat
menonjol tentang ketidaktepatan ilmiah. Kita perlu
melakukan kritik sebaris demi sebaris. Teks yang kita
muat di sini adalah teks menurut terjemahan Lembaga
Bibel Yerusalem, (Ecole Biblique de Yerusalem). Dalam
bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga
Alkitab Indonesia tahun 1962. (Rasjidi).

Fasal 1, ayat 1 dan 2,

1. "Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit
dan bumi.

2. Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu
hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah
melayang-layang diatas muka air itu."

Kita dapat menerima bahwa pada tahap bumi belum
diciptakan, apa yang kemudian menjadi alam yang kita
ketahui sekarang masih tenggelam dalam kegelapan, akan
tetapi tersebutnya adanya air pada periode tersebut
hanya merupakan alegori (kiasan) belaka mungkin sekali
ini adalah terjemahan suatu mitos. Kita akan melihat
dalam bagian ketiga dari buku ini bahwa pada tahap
permulaan dari terciptanya alam yang terdapat adalah
gas. Maka disebutkannya air di situ adalah suatu
kekeliruan.

Ayat 3 sampai 5

3. "Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu
terangpun jadilah.

4. Maka dilihat Allah akan terang itu baiklah adanya,
lalu diceraikan Allah terang itu dengan gelap.

5. Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan
gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah
hari yang pertama."

Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi
kompleks yang terjadi pada bintang-bintang. Hal ini
akan kita bicarakan pada bagian ketiga daripada buku
ini. Pada tahap penciptaan alam yang kita bicarakan
sekarang, menurut Bibel, bintang-bintang belum
diciptakan, karena sinar di langit baru disebutkan
dalam ayat 14 dari Kitab Kejadian, yaitu sebagai
ciptaan pada hari keempat, untuk "memisahkan siang
daripada malam," "untuk menerangi bumi." Dan ini semua
betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek
(sinar) pada hari pertama, dengan menempatkan
penciptaan benda yang menyebabkan sinar
(bintang-bintang) tiga hari sesudah itu. Lagipula
menempatkan malam dan pagi pada hari pertama adalah
alegori (kiasan) semata-mata, karena malam dan pagi
sebagai unsur hari tak dapat digambarkan kecuali
sesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah sinar
planetnya yaitu matahari.

Ayat 6 sampai 8

6. "Maka firman Allah: Hendaklah ada suatu bentangan
pada sama tengah air itu supaya diceraikan dengan air.

7. Maka dijadikan Allah akan bentangan itu serta
diceraikanlah air yang di bawah bentangan itu dengan
air yang di atas bentangan. Maka jadilah demikian.

8. Lalu dinamai Allah akan bentangan itu langit.
Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang kedua."

Mitos air diteruskan dalam ayat-ayat tersebut dengan
memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah
langit. Dalam riwayat Banjir Nabi Nuh, langit
membiarkan air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke
tanah. Gambaran bahwa air terbagi menjadi dua kelompok
tak dapat diterima secara ilmiah.

Ayat 9 sampai 13

9. "Maka firman Allah: Hendaklah segala air yang di
bawah langit itu berhimpun kepada satu tempat, supaya
kelihatan yang kekeringan itu; maka jadilah demikian.

10. Lalu dinamai Allah akan yang kekeringan itu darat,
dan akan perhimpunan segala air itu dinamainya laut;
maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

11. Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan
rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang
berbuah-buah dengan tabiatnya yang berbiji dalamnya di
atas bumi itu; maka jadilah demikian.

12. Yaitu ditumbuhkan bumi akan rumput dan pokok yang
berbiji dengan tabiatnya dan pohon-pohon yang
berbuah-buah yang berbiji dalamnya dengan tabiatnya;
maka dilihat Allah itu baiklah adanya

13. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang
ketiga."

Fakta bahwa pada suatu periode dalam sejarah bumi,
ketika bumi ini masih tertutup dengan air, terjadi
bahwa daratan-daratan mulai muncul, adalah suatu hal
yang dapat diterima secara ilmiah. Akan tetapi bahwa
pohon yang mengandung biji-biji bermunculan sebelum
terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru
tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa siang dan
malam silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal
tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan.

Ayat 14 sampai 19

14. "Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda
terang dalam bentangan langit supaya diceraikannya
siang dengan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa
dan hari dari tahun.

15. Dan supaya ia itu menjadi benda terang pada
bentangan langit akan menerangkan bumi; maka jadilah
demikian.

16. Maka dijadikan Allah akan kedua benda terang yang
besar itu, yaitu terang yang besar itu akan
memerintahkan siang dan terang yang kecil akan
memerintahkan malam, dan lagi segala bintang pun.

17. Maka ditaruh Allah akan dia dalam bentangan langit
akan memberi terang di atas bumi.

18. Dan akan memerintahkan siang dan malam dan akan
menceraikan terang itu dengan gelap maka dilihat Allah
itu baik adanya.

19. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang ke
empat."

Di sini gambaran yang diberikan oleh pengarang Injil
dapat diterima. Satu-satunya kritik yang dapat kita
lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan
letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi
dan bulan telah memisahkan diri daripada matahari;
menempatkan penciptaan matahari dan bulan sesudah
penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang
sudah disetujui secara pasti dalam ilmu pengetahuan
mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.

Ayat 20 sampai 23

20. "Maka firman Allah: Hendaklah dalam segala air itu
menggeriak beberapa kejadian yang bernyawa dan yang
sulur menyulur, dan hendaklah ada unggas terbang di
atas bumi dalam bentangan langit.

21. Maka dijadikan Allah akan ikan raya yang
besar-besar dan segala binatang sulur menyulur yang
menggeriak dalam air itu tetap dengan tabiatnya, dan
segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka
dilihat Allah itu baik adanya.

22. Maka diberkati Allah akan dia, firmannya: Jadilah
biak dan bertambah kamu dan damaikanlah air yang di
dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun
bertambah-tambah di atas bumi.

23. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang
kelima."

Ayat-ayat tersebut mengandung hal-hal yang tak dapat
diterima
Timbulnya binatang-binatang, menurut Kitab Kejadian,
bermula dengan binatang-binatang laut dan
burung-burung. Menurut Bibel, adalah pada hari
keesokannya bahwa bumi dihuni oleh binatang-binatang
(kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya);

Sudah terang bahwa asal kehidupan itu dari laut; kita
akan membicarakan hal tersebut pada bagian ketiga
daripada buku ini. Setelah adanya kehidupan di laut,
daratan dihuni oleh binatang-binatang. Di antara
binatang-binatang yang hidup diatas bumi, ada suatu
jenis reptil (binatang melata) yang dinamakan pseudo
suchiens yang hidup pada periode kedua dan yang
dikirakan menjadi asal burung-burung. Beberapa
sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan
ini. Tetapi binatang-binatang darat tidak disebutkan
oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah
munculnya burung-burung, oleh karena itu maka urutan
munculnya binatang darat dan burung-burung tak dapat
diterima.

Ayat 24 sampai 31

24. "Maka firman Allah: hendaklah bumi itu mengeluarkan
kejadian yang hidup dengan tabiatnya yaitu daripada
yang jinak dan yang menjalar dan yang liar, tiap-tiap
dengan tabiatnya, maka jadilah demikian.

25. Maka dijadikan Allah akan segala binatang yang liar
di atas bumi itu dengan tabiatnya, dan segala binatang
yang jinak pun dengan tabiatnya dan segala binatang
yang menjalar di atas bumipun dengan tabiatnya, maka
dilihat Allah itu baiklah adanya.

26. Maka firman Allah: Baiklah kita menjadikan manusia
atas peta dan atas teladan kita supaya diperintahkannya
segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang
di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi
dan segala binatang melata yang menjalar di tanah.

27. Maka dijadikan Allah akan manusia itu atas petanya
yaitu atas peta Allah dijadikannya ia, maka
dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.

28. Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya
kepadanya: berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan
penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia,
dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan
segala unggas yang di udara dan segala binatang yang
menjalar di atas bumi.

29. Lagi firman Allah: bahwa sesungguhnya Aku telah
memberikan kamu segala tumbuh-tumbuhan yang
berbiji-biji di atas seluruh muka bumi dan segala pohon
yang berbuah dengan berbiji itu akan makananmu.

30. Tetapi akan segala binatang liar yang di bumi dan
segala binatang yang menjalar di atas bumi, yang ada
nyawa hidup dalamnya, maka Aku mengaruniakan segala
tumbuh-tumbuhan yang hijau akan makanannya maka jadilah
demikian.

31. Maka dilihat Allah akan tiap-tiap sesuatu yang
dijadikannya itu, sesungguhnya amat baiklah adanya.
Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ke
enam."

Ini adalah gambaran selesainya penciptaan alam. Dalam
gambaran itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang
hidup yang tidak disebutkan sebelumnya, dan
mengingatkan kepada bahan makanan yang bermacam-macam
yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang.

Kesalahannya, sebagai yang telah kita lihat, adalah
dalam menempatkan munculnya binatang-binatang darat
sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas
bumi di tempatkan secara benar sesudah munculnya
makhluk-makhluk hidup yang lain.

Riwayat penciptaan alam selesai dengan tiga ayat
pertama dari fasal II.

1. "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta
dengan segala isinya.

2. Maka pada hari yang ke tujuh setelah sudah
disampaikan Allah pekerjaannya yang telah diperbuatnya
itu, maka berhentilah ia pada hari yang ke tujuh itu
dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya.

3. Maka diberkati Allah akan hari yang ke tujuh itu
serta disucikannya karena dalamnya ia berhenti dari
pekerjaannya, yang telah diperbuatnya, akan
menyempurnakan dia.

4. Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa
itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan
langit dan bumi. "

Ayat mengenai hari ketujuh ini memerlukan komentar:

Pertama mengenai arti kata-kata. Teks tersebut adalah
terjemahan dari Lembaga Bibel Yerusalem. Ayat pertama
berbunyi: "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi
serta dengan segala isinya." Perkataan terakhir dalam
bahasa Perancis terjemahan Lembaga Al Kitab Yerusalem
berbunyi "avec toute leur armee,' yang artinya, dengan
segala bala tentaranya.

Ayat kedua mengandung kata, berhentilah ia daripada
pekerjaannya. Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah,
sebagai terjemahan Ibrani "chabbat." Dan sampai hari
ini, hari Sabtu merupakan hari istirahat bagi orang
Yahudi.

Sudah terang bahwa "istirahat" yang dilakukan Tuhan
setelah bekerja keras selama enam hari adalah suatu
legenda, akan tetapi legenda itu ada tafsirannya. Kita
harus ingat bahwa riwayat penciptaan Tuhan yang kita
bicarakan di sini berasal dari tradisi sakderdotal atau
tradisi pendeta-pendeta, yakni tradisi yang ditulis
oleh para pendeta atau juru tulis yang merupakan
pewaris spiritual dari Yehezkiel, nabi Bani Israil pada
waktu pengasingan di Babylon, pada abad VI SM. Kita
mengetahui bahwa para pendeta mengolah versi Yahwist
dan Elohist daripada Kitab Kejadian, menyusunnya
menurut selera mereka, dan menurut adat kebiasaan
mereka yang mementingkan segi hukum sebagai diterangkan
oleh R.P. de Vaux. Kita telah membicarakan segi ini
pada lain tempat.

Teks Yahwist tentang penciptaan alam adalah lebih tua
beberapa abad daripada teks Sakerdotal, dan tidak
menyebutkan bahwa Tuhan beristirahat setelah bekerja
keras enam hari seperti yang disebut oleh penulis teks
Sakerdotal. Penulis teks Sakerdotal membagi waktu
penciptaan alam dalam hari-hari yang disamakan dengan
hari-hari seminggu yang biasa serta menekankan
istirahat hari Sabtu yang mereka rasa harus
dipertahankan kepada pengikut-pengikut mereka dengan
mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari
Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini,
maka riwayat penciptaan alam disajikan dengan logika
keagamaan yang semu, yang hasil-hasil penyelidikan
ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.

Menyelipkan hari ke tujuh (daripada hari-hari satu
minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud
agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti
yang dilakukan oleh pengarang sumber Sakerdotal, tak
dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang,
semua orang tahu bahwa terciptanya alam, termasuk di
dalamnya bumi tempat hidup kita telah terjadi dalam
tahap waktu yang sangat panjang, yang penyelidikan
ilmiah belum dapat memastikan walaupun secara "kurang
lebih." Hal ini akan kita bicarakan dalam bagian ketiga
daripada buku ini, yakni pada waktu kita membicarakan
tentang penciptaan alam menurut Al Qur-an.

Seandainya riwayat penciptaan alam selesai pada malam
hari yang ke 6, dan tidak menyebutkan hari ke tujuh
atau Sabat waktu Tuhan beristirahat, atau seandainya
kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai
enam periode seperti yang tersebut dalam Al Qur-an,
riwayat Sakerdotal tetap tak dapat diterima karena
urutan periode-periode tersebut sangat kontradiksi
dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer.

Dengan begitu maka riwayat Sakerdotal merupakan
konstruksi imaginatif yang lihay yang mempunyai suatu
tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu
kebenaran.
.............bersambung


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Sun May 25, 2008 8:57 pm, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
Admin
Admin


Jumlah posting: 271
Join date: 30.01.08

PostSubyek: Re: PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "INJIL"   Sun May 25, 2008 8:57 pm

.........Sambungan Bgn I

Riwayat kedua tentang penciptaan alam yang termuat
dalam Kitab Kejadian sesudah riwayat pertama, dengan
tanpa peralihan (transisi) dan tanpa komentar, tidak
menjadi sasaran kritik yang dilancarkan terhadap
riwayat pertama.

Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode
yang jauh lebih kuno, kira-kira 3 abad. Riwayat ini
pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan
manusia dan surga dunia di samping membicarakan
penciptaan bumi dan langit secara sangat singkat.
Beginilah bunyinya:

Fasal 2, 4b-7

4. "Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa
itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan
langit dan bumi.

5. Pada masa itulah belum ada tumbuh-tumbuhan di atas
bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena belum
lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum
ada orang akan membelakan tanah itu.

6. Melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan
segala tanah itu.

7. Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu daripada
debu tanah dan dihembuskannya nafas hidup ke lubang
hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa
yang hidup adanya."

Itulah; riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel yang
kita miliki sekarang. Apakah riwayat ini yang kemudian
ditambah dengan riwayat Sakerdotal, memang dari
permulaan adalah sangat singkat? Tak ada orang yang
dapat mengatakan bahwa teks Yahwist pernah dipotong,
dan tak ada pula orang yang dapat mengatakan bahwa
beberapa baris yang kita miliki itu merupakan segala
sesuatu yang termuat dalam teks yang lebih kuno
daripada Bibel mengenai penciptaan alam.

Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan
terbentuknya bumi dan langit. Riwayat tersebut hanya
memberi gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan
manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum
pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari dalam
bumi menutupi dataran bumi. Teks selanjutnya memberi
konfirmasi karena ayat 8 mengatakan: "Maka diperbuat
Tuhan Allah pula suatu taman dalam Eden, di sebelah
Timur, maka di sanalah ditaruhnya akan manusia yang
telah dirupakannya itu." Dengan ayat tersebut dapat
disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh pada waktu yang
sama dengan diciptakannya manusia. Ini secara ilmiah
tidak benar, manusia muncul di atas bumi lama setelah
tumbuh-tumbuhan ada, walaupun kita tidak tahu berapa
juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.

Itulah satu-satunya kritik yang dapat dilontarkan
kepada teks Yahwist. Dengan tidak mengatakan bahwa
manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya
alam dan bumi, dua hal yang dikatakan oleh teks
Sakerdotal sebagai dua hal yang terjadi dalam satu
minggu, teks Yahwist terhindar dari kritik berat yang
dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal.





Timbulnya binatang-binatang, menurut Kitab Kejadian,
bermula dengan binatang-binatang laut dan
burung-burung. Menurut Bibel, adalah pada hari
keesokannya bahwa bumi dihuni oleh binatang-binatang
(kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya);

Sudah terang bahwa asal kehidupan itu dari laut; kita
akan membicarakan hal tersebut pada bagian ketiga
daripada buku ini. Setelah adanya kehidupan di laut,
daratan dihuni oleh binatang-binatang. Di antara
binatang-binatang yang hidup diatas bumi, ada suatu
jenis reptil (binatang melata) yang dinamakan pseudo
suchiens yang hidup pada periode kedua dan yang
dikirakan menjadi asal burung-burung. Beberapa
sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan
ini. Tetapi binatang-binatang darat tidak disebutkan
oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah
munculnya burung-burung, oleh karena itu maka urutan
munculnya binatang darat dan burung-burung tak dapat
diterima.

Ayat 24 sampai 31

24. "Maka firman Allah: hendaklah bumi itu mengeluarkan
kejadian yang hidup dengan tabiatnya yaitu daripada
yang jinak dan yang menjalar dan yang liar, tiap-tiap
dengan tabiatnya, maka jadilah demikian.

25. Maka dijadikan Allah akan segala binatang yang liar
di atas bumi itu dengan tabiatnya, dan segala binatang
yang jinak pun dengan tabiatnya dan segala binatang
yang menjalar di atas bumipun dengan tabiatnya, maka
dilihat Allah itu baiklah adanya.

26. Maka firman Allah: Baiklah kita menjadikan manusia
atas peta dan atas teladan kita supaya diperintahkannya
segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang
di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi
dan segala binatang melata yang menjalar di tanah.

27. Maka dijadikan Allah akan manusia itu atas petanya
yaitu atas peta Allah dijadikannya ia, maka
dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.

28. Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya
kepadanya: berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan
penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia,
dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan
segala unggas yang di udara dan segala binatang yang
menjalar di atas bumi.

29. Lagi firman Allah: bahwa sesungguhnya Aku telah
memberikan kamu segala tumbuh-tumbuhan yang
berbiji-biji di atas seluruh muka bumi dan segala pohon
yang berbuah dengan berbiji itu akan makananmu.

30. Tetapi akan segala binatang liar yang di bumi dan
segala binatang yang menjalar di atas bumi, yang ada
nyawa hidup dalamnya, maka Aku mengaruniakan segala
tumbuh-tumbuhan yang hijau akan makanannya maka jadilah
demikian.

31. Maka dilihat Allah akan tiap-tiap sesuatu yang
dijadikannya itu, sesungguhnya amat baiklah adanya.
Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ke
enam."

Ini adalah gambaran selesainya penciptaan alam. Dalam
gambaran itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang
hidup yang tidak disebutkan sebelumnya, dan
mengingatkan kepada bahan makanan yang bermacam-macam
yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang.

Kesalahannya, sebagai yang telah kita lihat, adalah
dalam menempatkan munculnya binatang-binatang darat
sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas
bumi di tempatkan secara benar sesudah munculnya
makhluk-makhluk hidup yang lain.

Riwayat penciptaan alam selesai dengan tiga ayat
pertama dari fasal II.

1. "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta
dengan segala isinya.

2. Maka pada hari yang ke tujuh setelah sudah
disampaikan Allah pekerjaannya yang telah diperbuatnya
itu, maka berhentilah ia pada hari yang ke tujuh itu
dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya.

3. Maka diberkati Allah akan hari yang ke tujuh itu
serta disucikannya karena dalamnya ia berhenti dari
pekerjaannya, yang telah diperbuatnya, akan
menyempurnakan dia.

4. Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa
itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan
langit dan bumi. "

Ayat mengenai hari ketujuh ini memerlukan komentar:

Pertama mengenai arti kata-kata. Teks tersebut adalah
terjemahan dari Lembaga Bibel Yerusalem. Ayat pertama
berbunyi: "Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi
serta dengan segala isinya." Perkataan terakhir dalam
bahasa Perancis terjemahan Lembaga Al Kitab Yerusalem
berbunyi "avec toute leur armee,' yang artinya, dengan
segala bala tentaranya.

Ayat kedua mengandung kata, berhentilah ia daripada
pekerjaannya. Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah,
sebagai terjemahan Ibrani "chabbat." Dan sampai hari
ini, hari Sabtu merupakan hari istirahat bagi orang
Yahudi.

Sudah terang bahwa "istirahat" yang dilakukan Tuhan
setelah bekerja keras selama enam hari adalah suatu
legenda, akan tetapi legenda itu ada tafsirannya. Kita
harus ingat bahwa riwayat penciptaan Tuhan yang kita
bicarakan di sini berasal dari tradisi sakderdotal atau
tradisi pendeta-pendeta, yakni tradisi yang ditulis
oleh para pendeta atau juru tulis yang merupakan
pewaris spiritual dari Yehezkiel, nabi Bani Israil pada
waktu pengasingan di Babylon, pada abad VI SM. Kita
mengetahui bahwa para pendeta mengolah versi Yahwist
dan Elohist daripada Kitab Kejadian, menyusunnya
menurut selera mereka, dan menurut adat kebiasaan
mereka yang mementingkan segi hukum sebagai diterangkan
oleh R.P. de Vaux. Kita telah membicarakan segi ini
pada lain tempat.

Teks Yahwist tentang penciptaan alam adalah lebih tua
beberapa abad daripada teks Sakerdotal, dan tidak
menyebutkan bahwa Tuhan beristirahat setelah bekerja
keras enam hari seperti yang disebut oleh penulis teks
Sakerdotal. Penulis teks Sakerdotal membagi waktu
penciptaan alam dalam hari-hari yang disamakan dengan
hari-hari seminggu yang biasa serta menekankan
istirahat hari Sabtu yang mereka rasa harus
dipertahankan kepada pengikut-pengikut mereka dengan
mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari
Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini,
maka riwayat penciptaan alam disajikan dengan logika
keagamaan yang semu, yang hasil-hasil penyelidikan
ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.

Menyelipkan hari ke tujuh (daripada hari-hari satu
minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud
agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti
yang dilakukan oleh pengarang sumber Sakerdotal, tak
dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang,
semua orang tahu bahwa terciptanya alam, termasuk di
dalamnya bumi tempat hidup kita telah terjadi dalam
tahap waktu yang sangat panjang, yang penyelidikan
ilmiah belum dapat memastikan walaupun secara "kurang
lebih." Hal ini akan kita bicarakan dalam bagian ketiga
daripada buku ini, yakni pada waktu kita membicarakan
tentang penciptaan alam menurut Al Qur-an.

Seandainya riwayat penciptaan alam selesai pada malam
hari yang ke 6, dan tidak menyebutkan hari ke tujuh
atau Sabat waktu Tuhan beristirahat, atau seandainya
kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai
enam periode seperti yang tersebut dalam Al Qur-an,
riwayat Sakerdotal tetap tak dapat diterima karena
urutan periode-periode tersebut sangat kontradiksi
dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer.

Dengan begitu maka riwayat Sakerdotal merupakan
konstruksi imaginatif yang lihay yang mempunyai suatu
tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu
kebenaran.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
Admin
Admin


Jumlah posting: 271
Join date: 30.01.08

PostSubyek: Re: PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "INJIL"   Sun May 25, 2008 8:58 pm

Sambungan dari Bagian II

Riwayat kedua tentang penciptaan alam yang termuat
dalam Kitab Kejadian sesudah riwayat pertama, dengan
tanpa peralihan (transisi) dan tanpa komentar, tidak
menjadi sasaran kritik yang dilancarkan terhadap
riwayat pertama.

Kita harus ingat bahwa riwayat ini berasal dari periode
yang jauh lebih kuno, kira-kira 3 abad. Riwayat ini
pendek sekali, akan tetapi membicarakan juga penciptaan
manusia dan surga dunia di samping membicarakan
penciptaan bumi dan langit secara sangat singkat.
Beginilah bunyinya:

Fasal 2, 4b-7

4. "Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa
itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan
langit dan bumi.

5. Pada masa itulah belum ada tumbuh-tumbuhan di atas
bumi dan tiada pokok bertunas di padang, karena belum
lagi diturunkan Tuhan Allah hujan kepada bumi dan belum
ada orang akan membelakan tanah itu.

6. Melainkan naiklah uap dari bumi serta membasahkan
segala tanah itu.

7. Maka dirupakan Tuhan Allah akan manusia itu daripada
debu tanah dan dihembuskannya nafas hidup ke lubang
hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi suatu nyawa
yang hidup adanya."

Itulah; riwayat Yahwist yang terdapat dalam Bibel yang
kita miliki sekarang. Apakah riwayat ini yang kemudian
ditambah dengan riwayat Sakerdotal, memang dari
permulaan adalah sangat singkat? Tak ada orang yang
dapat mengatakan bahwa teks Yahwist pernah dipotong,
dan tak ada pula orang yang dapat mengatakan bahwa
beberapa baris yang kita miliki itu merupakan segala
sesuatu yang termuat dalam teks yang lebih kuno
daripada Bibel mengenai penciptaan alam.

Sesungguhnya riwayat Yahwist tersebut tidak menyebutkan
terbentuknya bumi dan langit. Riwayat tersebut hanya
memberi gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan
manusia, tak terdapat pohon-pohonan di atas bumi (belum
pernah ada hujan), meskipun air yang datang dari dalam
bumi menutupi dataran bumi. Teks selanjutnya memberi
konfirmasi karena ayat 8 mengatakan: "Maka diperbuat
Tuhan Allah pula suatu taman dalam Eden, di sebelah
Timur, maka di sanalah ditaruhnya akan manusia yang
telah dirupakannya itu." Dengan ayat tersebut dapat
disimpulkan bahwa pohon-pohonan tumbuh pada waktu yang
sama dengan diciptakannya manusia. Ini secara ilmiah
tidak benar, manusia muncul di atas bumi lama setelah
tumbuh-tumbuhan ada, walaupun kita tidak tahu berapa
juta tahun perbedaan antara dua kejadian itu.

Itulah satu-satunya kritik yang dapat dilontarkan
kepada teks Yahwist. Dengan tidak mengatakan bahwa
manusia diciptakan Tuhan bersamaan dengan diciptakannya
alam dan bumi, dua hal yang dikatakan oleh teks
Sakerdotal sebagai dua hal yang terjadi dalam satu
minggu, teks Yahwist terhindar dari kritik berat yang
dilontarkan orang terhadap teks Sakerdotal.



BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi
Penerbit Bulan Bintang, 1979
Kramat Kwitang I/8 Jakarta
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://islamiptek.forumotions.net
 

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI "INJIL"

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

 Similar topics

-
» menekan dorongan ke alam bawah sadar
» Solved: [Help] IPB Profile Style Versi Punbb
» Rohan Bot Versi 2.02 (patch crafting) Released
» SEJARAH ALQURAN VERSI DEPAG DAN SAUDI ARABIA
» SYUKUR (LAGU WAJIB NASIONAL) VERSI GOTHIC

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
ISLAM & IPTEK ::  :: -